Honai Smart News

” PTKIN GARDA NKRI, INDONESIA KUAT, INDONESIA MAJU “

Oleh. Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID, S.Ag. M.Si
Rektor IAIN Fattahul Muluk Papua.
Cendekiah Poros INTIM.

Saudara-saudara KU. Tulisan ini, agar di baca hingga Akhir. Karena ada makna dibalik setiap peristiwa renungi Laaah.

Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, merupakan locus Pembaharuan Peradaban sistem Pendidikan, yang hadir disaat benturan Pemikiran Lulusan Barat dan Ulama kala itu. Sehingga keinginan umat Islam untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi pertama kali diserukan oleh Satiman sebagai salah satu agenda Kongres al-Islam II yang diadakan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada tahun 1939.

Pada tanggal 29 Januari 1943, para pemimpin MIAI mengadakan pertemuan yang menghasilkan tiga program, yaitu :

1. Membangun sebuah Masjid Agung sebagai simbol bagi umat Islam Indonesia.

2. Mendirikan sebuah universitas Islam, dan

3. Membangun sebuah kantor perbendaharaan Islam pusat (Bait al-Mal) untuk menerima zakat dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan.
Meskipun demikian, sampai pada akhir masa penajajahan Belanda, ide pendirian lembaga pendidikan Islam tersebut belum benar-benar bisa terealisasi.

Menjelang kemerdekaan, Masyumi yang merupakan organisasi Islam bentukan Jepang memutuskan untuk mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta. Keputusan Masyumi ini merupakan kelanjutan dari usaha-usaha yang telah dicoba oleh MIAI sejak awal tahun 1943. Namun, berbeda dengan MIAI yang mendapatkan tekanan dari pihak Jepang, Masyumi lebih beruntung memiliki kedekekatan dengan Jepang. Melalui Panitia Pendirian Pendidikan Tinggi Islam yang dipimpin oleh Moh. Hatta, bentuk perguruan tinggi Islam mulai dirancang.

Pendirian lembaga pendidikan tinggi ini pada mulanya adalah untuk melahirkan alim ulama yang intelek, yaitu mereka yang mempelajari ilmu pengetahuan agam Islam secara luas dan mendalam, serta mempunyai pengetahuan umum yang perlu dalam menghadapi perkembangan global pada masyarakat modern hingga sekarang. Sekolah Tinggi Islam yg semula di Jakarta, Pindah ke Yogyakarta, sebagai akibat agresi militer Belanda dan baru dibuka kembali pada tanggal 10 April, 1947 oleh Presiden RI Pertama. Pada tanggal 22 Maret 1948 STI dirubah menjadi UII (Universitas Islam Indonesia), bermula dari Fak.Agama UII, maka lahirlah PTAIN pada tgl 14 Agustus 1950 yg ditandai dengan PP No.v34 thn 1950. Dan diresmikan pada 26 September 1951 oleh menteri Agama KH. A. Wahid Hasyim saat itu.

Apabila tulisan sebagaimana tersebut di atas kita dalami, maka untuk itu perlu kita kaji kembali Keberadaan PTKIN, yg sesungguhnya hadir sebagai Lokomotif Pembaharuan Peradaban Pemikiran Islam dan Barat dalam neraca Wasathiyah Prespektif “Tasamuh”. Sehingga untuk itu setiap Pimpinan PTKIN harus menyadari aspek Historis bahwa hadirnya PTKIN Sebagai GARDA NKRI, yg mampu dan mapan menjadikan “INDONESIA KUAT Dan INDONESIA MAJU” Kita di Tuntut oleh leluhur pendiri Bangsa sebagaimana tercantum dalam UUD 1945. Bahwa ” Negara Berkewajiban mencerdaskan Kehidupan Bangsa ” Maka untuk itu PTKIN harus terdepan berperan aktif menyiapkan Bumiputera yg handal dan Kuat dalam menghadapi Virus Hypper Globalis Asing dan Aseng yg sedang Stress mikirian “Virus Corona”_.

Jayapura, 04/03/2020

By. Si Hitam Manis Pelipur Lara selalu Menusuk dada NKRI Absolute Bravo Harga Mati.__.

Related posts

” KULTUR BIROKRASI PATERNALIS DAN PARTIKULARIS “

Zulfa

” RATAPAN MU SEJATINYA HARAPAN “

Zulfa

” DUNIA SESAK DALAM KUBANGAN CORONA MAUNYA APA DAN BAGAIMANA “

Zulfa