Honai Smart News

“MENJAGA PANDANGAN MATA”

Oleh: Moh. Wahib, Lc, MA *)

 

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”(QS: Annur :30).

Baru-baru ini muncul sebuah kasus yang sangat menggegerkan, tepatnya di wilayah Bangka Belitung. Seorang remaja kelas 1 SMP memperkosa anak balita umur 4 tahun. Ibu si anak balita menitipkan anaknya tersebut kepada remaja itu. Ia mengaku melakukan pemerkosaan karena sebelumnya menonton video porno di HP nya. Ia tak tahan dan ingin meniru apa yang sudah dilihatnya. Masih banyak lagi kasus lain seputar pelecehan dan pelanggaran seksual akibat tayangan pornografi yang dilihat pelaku di berbagai media.

Mengapa dari pandangan mata  bisa berakibat fatal kepada pelanggaran seksual? Syekh Sya’rowi, ulama besar Al-Azhar Mesir dalam kitab tafsirnya berpendapat bahwa  terdapat 3 fase sehingga seseorang bisa bertindak atau bereaksi negatif, yaitu: Idrak (melihat), wijdan (tertarik) dan Nuzu’(bertindak untuk meraih).

Menurut beliau, berkaitan dengan pemandangan alam, kita diperbolehkan untuk idrak(melihat) dan wijdan(tertarik). Sebagai contoh sekuntum bunga milik tetangga. Maka kita diperbolehkan untuk mencapai fase pertama yaitu melihat bunga tersebut dan boleh mencapai fase kedua yaitu tertarik. Yang dilarang adalah fase ketiga yaitu nuzu’ yaitu meraih dengan mengulurkan tangan kita untuk memetik bunga itu.

Tetapi khusus berkaitan dengan pandangan mata atau melihat wanita, dalam hal ini Allah sudah melarang semenjak pertama, yaitu idrak. Artinya seorang lelaki dilarang melihat wanita dengan pandangan tajam yang mengandung syahwat. Sebab hal itu akan merasuk ke dalam hatinya dan tertarik, yang selanjutnya akan berdampak negatif untuk melampiaskan nafsunya itu. Karena itu, Allah SWT sudah membentengi reaksi negatif dengan menghalangi sejak pertama, yaitu menjaga pandangan mata.

Menundukkan pandangan (ghaddlulbashar), bukan berarti harus berjalan dengan menundukkan kepala dan mata serta terus menerus melihat ke bawah. Sebab dalam ayat tersebut dijelaskan dengan memakai lafadz “min” yang berarti sebagian pandangan. Jelas bahwa yang dilarang adalah bukan semua pandangan, tetapi sebagian pandangan. Artinya wajah tetap melihat seperti biasa, tetapi mata harus dijaga dan dikendalikan.

Dalam ayat tersebut juga Allah menyandingkan antara menundukkan pandangan dengan menjaga kemaluan. Ini menunjukkan bahwa syahwat kemaluan dapat terjaga manakala syahwat mata bisa dikendalikan. Seseorang yang terbiasa berzina, bisa dipastikan ia lemah dalam menjaga pandangan matanya. Ia mudah sekali mengumbar dan melepaskan pandangannya. Sehingga dari pandangan mata tersebut berakibat kepada ketidakberdayaaan dalam mengendalikan kemaluan.

Padahal dalam sebuah syair Arab dinyatakan: ”Sesungguhnya banyak kejadian bermula dari pandangan, dan kobaran api bermula dari percikan api yang kecil”.

Orang yang dapat  menahan pandangan matanya berarti orang yang suci dan bersih. Allah menyebutnya sebagai ”azka”. Yaitu memiliki hati yang suci. Ini berarti bahwa semakin kita menjaga pandangan, maka hati kita semakin bersih dan suci. Sebaliknya, pandangan mata yang bebas, akan mengakibatkan hati kotor. Jika hati kotor, maka perilaku akan menjadi kotor. Sebab sebagaimana sabda Rasulullah SAW, bahwa ada sekerat daging yang jika kotor, maka menyebabkan kotor semua perbuatan, yaitu hati. Dalam ayat lain dijelaskan bahwa “Dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwa”. Jadi orang yang mengumbar pandangannya tanpa kendali, berarti ia mengotori jiwa dan hatinya dan menjadi orang yang merugi di akhirat nanti.

Menjaga pandangan memerlukan kesabaran, dalam hal ini sabar dalam menghindari maksiat. Dalam surat Ali Imran ayat 34 dijelaskan bahwa di antara syahwat yang dimiliki manusia adalah syahwat dengan lawan jenis. Syahwat itulah merupakan kesenangan dunia. Tetapi ada kesenangan yang lebih baik yaitu surga yang diberikan untuk orang yang bertakwa, yaitu yang sabar dalam menghindari larangan.

Salah satu sifat orang yang bertakwa adalah sabar, termasuk sabar dalam menghindari maksiat. Balasan di surga adalah disandingkan dengan pasangan (isteri) yang disucikan. Syekh Sya’rowi menafsirkan “disucikan” adalah suci secara fisik dan akhlak. Isteri di surga jauh lebih sempurna dan lebih baik dari isteri dan wanita dunia. Hal ini karena wanita dunia mengalami masa haid(tidak suci) dan terkadang memilki sifat atau akhlak yang buruk.Berbeda dengan pasangan disurga yang disucikan Allah SWT dari berbagai noda lahir dan batin.

Seorang mukmin harus sadar, bahwa yang dihalalkan adalah isteri mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam awal surat Almu’minun bahwa seorang mukmin harus menjaga kemaluannya kecuali kepada isterinya. Kewajiban menjaga kemaluan ini, mengharuskan adanya penjagaan terhadap pandangan dari melihat wanita selain isterinya.

Diakui bahwa secara biologis, syahwat lelaki lebih cepat timbul dari pada syahwat wanita. Terkadang lelaki begitu tergoda dengan penampilan wanita lain selain isterinya. Cara menyikapinya adalah kita mencukupkan dengan isteri, dan yakin bahwa bagian sisanya adalah pasangan kita di surga nanti yang dijanjikan Allah SWT. Dengan keyakinan ini, maka kita mendapatkan benteng yang tangguh agar tidak terjerumus untuk mengumbar pandangan. Selain itu juga merasa optimis karena akan mendapatkan imbalan di akhirat yang jauh lebih nikmat dan lebih baik dari kesenangan dunia.

Pada jaman sekarang ini susah sekali untuk menjaga pandangan, karena banyak wanita keluar rumah dengan membuka aurat. Hal itu bisa kita saksikan di jalan, televisi dan media cetak. Nampak wanita yang mengangkat pakaian hingga di atas lututnya adalah pemandangan yang biasa terjadi di Indonesia. Padahal hal seperti itu sangat jarang kita dapatkan di negara Arab. Semestinya kita merasa malu, karena kita adalah muslim mayoritas seluruh dunia. Tetapi dalam hal menjaga aurat, wanita muslimah kita masih begitu lalai.

Selain itu juga media internet menyajikan berbagai pornografi dengan mengeskpose aurat wanita yang bisa dengan mudah diakses oleh siapa saja. Ini menjadi tantangan sekaligus ujian berat bagi seorang mukmin. Mampukah ia mengendalikan pandangan matanya di tengah serbuan tayangan pornografi ini?

Allah SWT sudah menasehati kita yang  dijelaskan dalam kandungan ayat setelah menjaga pandangan(Annur:31):” Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”. Tidak boleh seorang wanita muslimah membuka aurat kecuali yang nampak, yaitu wajah dan telapak tangan. Tubuh wanita memang sumber aurat. Oleh karena itu Al-Qur’an telah memperingatkan wanita untuk tidak sembarangan membuka aurat mereka kecuali kepada keluarga dekat, seperti suami, ayah, saudara,anak, keponakan, mertua, dan sebagainya.

Keberhasilan menundukkan pandangan seorang lelaki, tergantung sejauh mana sikap wanita dalam menjaga auratnya. Diperlukan kolaborasi yang indah antara lelaki muslim dan wanita muslimah. Lelaki menahan pandangan, sementara wanita menutup auratnya.

Syekh Sayyid Sabiq, pengarang Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa insting paling kuat yang tertanam dalam diri manusia adalah insting seksual. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dan menjaga diri kita agar tidak dijerumuskan oleh nafsu seksual ke dalam pelanggaran seperti perzinaan dan yang mendekatinya.

Dalam ayat yang lain Allah menyatakan “Dan janganlah mendekati zina”.  Termasuk juga memandang wanita lain dengan syahwat adalah perbuatan yang mendekati zina. Sehingga dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa mata juga berzina, dan zina mata adalah memandang dengan syahwat.

Dalam sebuah pepatah Arab juga disebutkan”: Pandangan,senyuman,salam,pembicaraan, janjian, dan ketemu”. Maksudnya adanya pertemuan dengan lawan jenis yang mengarah kepada perzinaan, bermula dari pandangan mata yang berlanjut kepada pelanggaran yang lain.

Rasulullah SAW berpesan kepada  Ali bin Abi Thalib,  “ Jangan mengikutkan sebuah pandangan dengan pandangan yang berikutnya, sebab pandangan pertama adalah untukmu, dan pandangan berikutnya adalah dosa bagimu”.

Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa pandangan adalah salah satu panah yang dilepaskan oleh syetan. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari memandang, maka Allah akan memberikan baginya kelezatan iman yang bisa ia rasakan dalam hatinya.

Kita harus sadar bahwa nafsu seksual tidak akan ada habisnya, selalu menuntut pemenuhan. Maka tidak ada jalan lain, kecuali mengendalikan nafsu itu agar tidak liar dan buas. Dalam syair syekh pengarang Burdah” Dan ketika kau perturutkan nafsu, maka akan terus merengek minta disusui/dipenuhi. Tapi jika engkau sapih, maka nafsu itupun tersapih/berhenti merengek”.

Sebagai penutup, dalam ayat tersebut mengingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui terhadap apa-apa yang kita perbuat, khususnya dalam memandang hal yang dilarang. Akhir ayat ini merupakan penegasan, bahwa segala gerak gerik seorang mukmin termasuk memandang wanita, dilihat dan diketahui oleh Allah SWT.

Seorang mukmin mengaku beriman kepada Allah yang gaib. Allah tidak terlihat. Tetapi jika ia mukmin sejati dengan kegaiban Allah itu, maka ia yakin merasa diawasi. Sebab Allah memang tidak dapat terjangkau secara kasat mata karena kita tidak mampu melihat. Nanti ketika di akhirat Allah bisa dilihat. Dengan keyakinan ini, maka ia tidak akan melepaskan pandangannya karena Allah Mengetahui apa yang diperbuatnya. (*)

*) Penulis adalah Dosen IAIN Fattahul Muluk Papua

Related posts

” JAUHI PRASANGKA, DAN RAJINLAH BERIBADAH “

hersen

ETIKA MENASEHATI DAN MENEGUR DALAM ISLAM

hersen

” PANORAMA TOKOH HISTORIKAL DALAM MODERASI AGAMA “

hersen