Honai Smart News

ETIKA MENASEHATI DAN MENEGUR DALAM ISLAM

Oleh H. Muhammad Wahib, Lc, MA

(Dosen Fakultas Syariah IAIN Fattahul Muluk Papua)

 

            Amar makruf (menyuruh kebaikan) dan nahi mungkar (meninggalkan kemungkaran) merupakan anjuran islam. Islam mengajarkan agar sesama muslim saling menasehati dalam kebaikan dan saling mengingatkan.Tetapi Allah SWT juga menyuruh kita agar menyampaikan nasehat tersebut dengan baik sehingga jangan sampai menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, bahkan menimbulkan kebencian dan permusuhan.

Manusia memiliki hati dan perasaan yang disebut kalbu. Kalbu inilah yang bisa mendapat cahaya hidayah dengan amar makruf nahi munkar dengan jalan yang tepat sesuai ajaran islam. Sebaliknya jika kalbu tersebut diperlakukan dengan semena-mena misalnya melukai hati dan menyinggung perasaan, maka aktifitas amar makruf menjadi gagal dan sia-sia.

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menegur atau menasehati kepada sesama:

  1. Dengan Santun, Lemah Lembut Dan Sopan.

Hendaklah tindakan menegur dan menasehati dilakukan dengan bahasa yang lembut dan santun. Hindarilah bahasa yang kasar dan ketus. dalam hal ini allah swt berfirman:

“serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk’. Annahl 125

Sikap santun ini bukan saja ditujukan kepada sesama muslim saja, namun juga kepada orang kafir. Kita dituntut bersikap santun dan sopan kepada mereka, lemah lembut dan tidak menyinggung perasaan. Ini bisa kita lihat tatkala Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berdakwah kepada fir’aun. “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut“.QS Toha: 44

Redaksi dalam ayat ini menggunakan kata qaulan layyinan, maksudnya perkataan yang lembut dan sopan. Bukan perkataan kasar, keras dan bernada menyerang. Kata-kata yang lembut tersebut bertujuan agar Fir’aun ingat, sadar dan takut sehingga ia menerima ajakan nabi Musa dan nabi Harun.

Jika watak manusia diperlakukan dengan kasar, maka akan menimbulkan penolakan keras. Ia justru bertambah lari dari ajakan dakwah. Ini sesuai dengan firman:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Ali imran:159

Al-Qur’an menggambarkan perkataan kasar dengan kata adza dalam firmannya’ Perkataan yang baik dan pemberian maaf. lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Qs albaqarah:63

Perkataan yang baik Maksudnya menolak dengan cara yang baik yaitu dengan ucapan yang sopan tanpa melukai perasaan si peminta. Perkataan yang baik tersebut lebih utama dari pada sedekah yang diiriingi dengan sesuatu yang menyakitkan. Maksudnya mengucapkan kata-kata kasar, mencaci, maki dan menghina si penerima.

Kita juga dilarang mengucapkan kata-kata ah ketika merespon perintah orang tua kita. Allah berfirman”:“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”. Al-Isra’ 23

.           Secara bahasa kata ah ini nampak sepele. Tetapi secara psikologis, kata ah ini sangat menyakitkan hati kedua orang tua. Seolah sang anak membangkang dan meremehkan orang tuanya. Kita diminta oleh allah mengatakan qaulan karima artinya perkataan yang santun da lembut, baik dalam hal nada suara maupun dari kandungannya seperti dipahami dalam kata uff/ah.

Pepatah mengatakan lidah lebih tajam dari  pedang. Jika tubuh terluka dengan pedang, maka banyak obatnya. Tetapi manakala lidah melukai hati karena cacian, sindiran, kata-kata kasar, hinaan dan sejenisnya, maka sulit diobati. Bahkan memerlukan waktu yang lama untuk memulihkannya.

Banyak sekali kasus pertikaian di tengah komunitas masyarakat diakibatkan ejekan, saling hina dan ucapan menyinggung perasaan orang lain. Bahkan bisa terjadi peperangan. Oleh karena itu rasul dalam sebuah hadits menyatakan salah satu ciri orang muslim adalah orang-orang di sekitarnya merasa aman dari kejahatan lidahnya dan tangannya. Maksud dari hadits ini bahwa lidah seorang muslim selalu terjaga, tidak mengumbar cacian,hinaan, sindiran sehingga merusak kedamaian di tengah masyarakat.

Dalam hadits yang lain rasul menyatakan: keselamatan manusia digantungkan kepada keselamatan menjaga lidahnya. Bahkan ada pepatah menyatakan mulutmu harimaumu. Maksudnya mulut bisa berubah menjadi harimau yang siap menerkam kapan saja. Ketika kalimat sudah keluar dari mulut, maka mustahil ditarik kembali. Tinggal menunggu akibatnya.

Karena itu seorag muslim harus sadar, bahwa lidah ini dipertanggung jawabkan nanti di hadapan allah swt.

pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Annur 24

Rasul dalam sabdanya menyatakan: barangsiapa yang beriman kepada allah dan  hari akhir, maka hendaknya berkata baik atau lebih baik diam.

Terkadang lidah kita keceplosan menyindir atau mencela seseorang agar bisa mendapatkan canda tawa dari teman-teman kita. Atau untuk menghangatkan suasana. Tetapi tanpa kita sadari, hal tersebut merupakan perilaku yang buruk dan akhlak tercela.

Ketiga ayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa Allah swt sangat memperhatikan ucapan yang keluar dari lidah sehingga perintah dengan ucapan yang baik dan lembut diungkapkan dalam redaksi yang indah dengan variasi yang berbeda.

Pertama dengan qaulan layyinan kepada fir’an yaitu berkata lemah lembut dan santun. Bukan perkataan yag menyerang, menantang, mengajak permusuhan.

Kedua kepada kedua orang tua dengan kata qaulan kariima perkataan yang sopan, lembut sebagai lawan dari bentakan yang dilarang kepada orang tua

Ketiga qaulan ma’rufaa kepada si peminta sedekah yang berarti perkataan yang santun dan terhindar dari melukai perasaan si pengemis seperti mengatakan kepadanya ‘kamu miskin, kamu malas, mencari duit susah kenapa kamu dengan enak meminta saja”.

Dengan ketiga ayat dalam berbagai variasi surat yang berbeda menunjukka n kepada kita betapa allah menyuruh kita agar santun, lembut dan berkata dengan perkataan yang baik. Terhindar dari mencaci maki, membentak, menyindir dengan kata-kata tajam.

Jadi kandungan kata yang layyin,kariim dan ma’ruf bisa berarti secara da hal yaitu dari nada suara yang tinggi. Ini bisa dipahami dari ayat yang melarang umat islam meninggikan suara di atas suara nabi/raf’ul ashwaat. Dan bisa dipahami dari kata nahr  yang berarti bentakan. Kata nahar seakar kata dengan nahar sungai yang mengalir deras. Bisa disamaka dengan nahr membentak karena dengan entengnya ucapan mengalir dengan deras melalui bentakan.

Kata nahr ini sudah melampau ucapan sewajarnya. Bahkan dalam komunitas arab yang memang nadanya sudah keras atau seperti orang medan. Jelas kita bisa membedakan ucapan orang medan, antara ucapan lantang biasa dengan ucapan lantang dengan nada bentakan. Karena nada bentakan memiliki frekuensi yang lebih tinggi dari suara manusia yang biasa ia ucapkan, meskipun itu orang arab ataupun orang medan. Kata ma’ruf disitu jelas sesuai dengan semua adat. Sehingga ketika keluar dari adat kebiasaan ucapan masing-masing komunitas karena sangat tinggi nadanya, maka sudah bukan ma’ruf lagi.

Demikian juga nada suara ini bisa dipahami dari kata adzaa. Para ahli tafsir menyatakan bahwa adzaa maksndya kata-kata nyaring, keras, ketus, lantang yang menyakitkan si pengemis.

Unsur kedua,Larangan perkataan dalam islam, juga mengandung unsur isi dan kandungannya. Karena bisa jadi seseorang menyatakan dengan nada halus tetapi isinya kasar karena mengandung unsur sindiran. Contoh: pak besok jangan ke sini lagi karena mencari uang susah. Kalimat ini bisa diucapkan dengan nada rendah. Meskipun rendah tetapi isinya menyakitkan hati. Dalam pelajaran gaya bahasa dinamakan sarkasme yaitu sindiran. Contoh orang yang mengucapkan terimakasih dengan maksud menghina.

Sebagai contoh, ada sebuah kisah saling menyindir dengan nada menjatuhkan lawan politik antara partai golkar dan pdi perjuangan. Keduanya saling menjatuhkan dengan memelintir makna ayat alquran dalam surat albaqarah. Kubu pdi perjuangan menyitir ayat jangan mendekati pohon ini sedangkan kubu Golkar menyitir ayat sesungguhnya allah menyuruhmu untuk menyembelih sapi.

Perkataan ini jika kita cermati jelas mengandung unsur penghinaan satu dengan yang lain yang dilarang dalam alqur’an.

Jadi ketiga lafadz qaulan layyina, kariima dan ma’ruufa harus mencakup kedua unsur tadi baik secara kuantitas berupa frekuensi nada yang jauh dari bentakan dan nada tinggi. Dan yang kedua isinya terhindar dari unsur penghinaan, pelecehan atau sindiran.

 

  1. Jangan Menegur Di Depan Umum .

Menasehati dan menegur di depan umum bisa mempermalukan orang yang ditegur. Pada akhirnya nasehat tersebut mental dan gagal. Menegur di depan umum sama dengan membuka aib saudara kita di depan umum.

Padahal Rasululullah SAW meminta agar sesama muslim harus menutupi aib saudaranya. Dalam sebuah hadits riwayat imam muslim:”Barangsiapa menutup aib saudaranya, maka allah akan menutupi aibnya nanti di hari kiamat.

Setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Tak ada gading yang tak retak. ketika itulah kita mengajak saudara kita agar bertaubat. kita berikan waktu baginya untuk bertaubat. jika kita membeberkan aibnya di depan umum atau menggunjingkan keburukannya, maka sama saja kita menjauhkannya untuk bertaubat. karena banyak orang yang akan mencelanya.

Kisah hadits ifki,berita bohong di mana aisyah istri nabi dituduh berzina. Bayak desas desus yang menyebar luas di tengah kaum muslimin. Maka allah menegur keras dengan menurunkan surat annur ayat 19

 Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

Rasul bersabda: tidak menutupi seorag hamba  kepada aib hamba yang lain di dunia, melainkan  alah aka menutupi aibnya nanti di hari kiamat hr muslim

Dalam hadits yang lain rasul bersabda: setiap umatku diampuni kecuali orang yang mujahirin berterang-terangan . termasuk perbuatan mujaharh yatitu seorag pada malam hari beruat dosa kemudian pagi hari alah telah menutupi aibnya lalu ia berkata saya tadi malam telah melakukan perbuatan ii da itu padahal allah telah menutupi aibnya, sementara ia membuka tutup aib yang telah ditutupkkan allah kepadanya hr bukhari muslim.

            Hadits ini melarang seseorag membuka aibnya. Termasuk juga dibuka oleh orag lain.

Dalam hadits yang lain rasul bersabda: jika seorang budak wanita berzina lalu nyata ia melakukan zina, maka hendaknya ia dicambuk d tidak dicaci maki, jika mengulangi kedua kali, maka ia dicambuk da tid dicaci maki, jika ia berzina ketiga kali, maka hendaknya ia dijual meski dengan setali gandum. HR bukhari muslim.

            Dalam kitab Riyadusshalihin bab menutup aurat muslim, imam nawawi mencantumkan sebuah kisah hadits riwayat imam bukhari: nabi didatangkan dengan seorang yang minum khamr. Beliau bersabda: cambuklah ia. Abu hurairah berkata: di antara kami ada yang memukulnya dengan tangan, ada yang dengan sandal, dan dengan baju. Ketika selesai beberapa sahabat mencelanya: semoga allah menistakanmu. Rasul bersabda: jangan kalian berkata seperti itu. Jagan kalian memberi kesempatan syetan kepadanya.

Orang yang suka membuka aib saudaranya, sesungguhnya ia merasa dirinya suci dan bersih. padahal bisa jadi ia lebih buruk dari orang yang dibuka aibnya. Allah melarang kita untuk sok suci dan bersih karena Allah lebih tahu yang sebenarnya.

(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. Annajm 32

Orang yang menegur di depan umum, sama saja ia mencela saudaranya. Padahal Allah telah melarang mengejek, mengolok-olok dan menghina saudara kita sendiri. karena bisa jadi saudaranya yang diejek tersebut lebih baik dari si pengejek.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Alhujurat 11.

KOMENTAR PARA ULAMA

Imam Ibnu Hibban seorang ulama hadits, dalam kitab raudhatul uqala wa nuzhatul fudhala’ sebagaimana dikutib ustadz Fariq Basuni mengatakan” teknik penyampaian nasehat haruslah dengan secara rahasia. tidak boleh tidak. karena barangsiapa yang menasehati saudaranya di hadapan orag lain, maka berarti dia mencelanya. dan barangsiapa yang menasehatinya secara rahasia, maka berarti dia telah memperbaikinya. sesungguhnya penyampaian dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritikan yang membangun, lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan penyampaian dengan maksud mencelanya.

Imam Ibnu Hazm: bila engkau beri nasehat, maka nasehatilah secara rahasia, jangan di hadapan orang lain. jika engkau melampaui adab-adab tadi, maka engkau orang yang dzalim, bukan pemberi nasehat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan, bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukhuwah. ini bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan, melainkan hukum rimba seperti penguasa kepada rakyatnya dan majikan dengan hamba sahayanya.

 

Imam Syafiii dalam sebuah syairnya, sebagaimana tercantum dalam kitab diiwan Asyafii, pernah menyatakan: “Hendaklah engkau sengaja mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian. hindarilah memberikan nasehat kepadaku di tengah khalayak ramai. karena sesungguhnya memberi nasehat di hadapan banyak orang sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya.

Menegur dan mencela di depan umum sama saja dengan menjatuhkan harga diri dan martabat sesama saudaranya. padahal dalam islam haram hukumnya menjatuhkan harga diri dan melukai perasaan sesama muslim.

Dalam hadits Rasul bersabda: muslim adalah saudara muslim. Ia tida mengkhianatinya, tdiak membohonginya, tidak menagniayanya. Setiap muslim haram kepada muslim yang lain haram kehormatanya, hartanya da darahnya. Taqwa itu di sini. Cukuplah kejahatan jika seorang muslim menghina saudaranya, hadits sahih riwayat turmudzi.

Dalam hadits yang lain riwayat imam muslim: jangan kalian saling mendengki, jangan saling menipu, jangan saling benci ,jangan saling menyingkir. Jangan kalian membeli barang yang ditawar saudaramu, jadilah hamba allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara muslim yang lain tidak mendzaliminya, tidak menyakitinya, tidak menghinanya. Takwa di sini, beliau mengisyaratkan ke dadanya 3 kali. Cukuplah kejahatan menghina saudaranya muslim yang lain. setiap muslim kepada yang lain haram mengganggu darahnya, hartanya dan kehormatannya. HR muslim. Riyadhusshalihin hal 131

Haram darahnya maksudnya haram membunuhnya, menganiaya fisiknya, haram hartanya maksudnya haram mengambil hak hartanya secara dzalim. dan haram kehormatan atau harga dirinya maksudnya haram menjatuhkan harga dirinya seperti mencelanya di depan umum.

Suatu saat Ibnu Mas’ud memanjat pohon arak, kemudian terlihat betisnya yang kurus. Melihat tubuh tersebut, para sahabat mentertawakannya sehingga membuat ibnu mas’ud malu. Maka kejadian itu ditegur oleh Rasulullah dengan sabdanya;”Kalian menertawakan betis Ibnu Mas’ud. Demi Allah itu lebih berat timbangannya dari pada gunung Uhud. Kisah ini begitu relevan jika kita samakan dengan menegur di depan umum.

Bahkan suatu saat ketika Ghamidiyyah, seorang wanita pezina yang telah bertaubat dan telah dieksekusi rajam hingga wafat. Para sahabat mencelanya. Maka rasul bersabda: Demi Allah, dia telah bertaubat.

Kisah-kisah dalam hadits ini membuktikkan betapa Rasulullah SAW sangat menjaga harga diri dan martabat seseorang. Sehingga ucapan mencaci, menghina, apalagi di depan umum harus dihindarkan.

Islam sangat menjaga harga diri dan perasaan. Dalam sebuah hadits riwayat bukhari muslim, disebutkan jika ada 3 orang sedang bersama-sama, maka dilarang keduanya melakukan pembicaraan berdua dengan megacuhkan orang yang ketiga. Karena hal tersebut membuat orang yang ketiga bersedih karena tidak diajak bicara. Nampak dari sini begitu perhatiannya islam dalam menjaga perasaan seorag muslim.

Dalam sebuah hadits, bahwa dosa sesama manusia seperti mencela, menghina akan dimintai balasannya nanti di akhirat. Sehingga terdapat orang yang muflis atau bangkrut. Ia sering shalat, puasa dan ibadah namun sering menyakiti orang lain. Maka kebaikannya diberikan kepada orang yang disakitinya.

  1. 3. Imbangilah teguran itu dengan menyertakan prestasi dan kebaikan yang pernah diperbuatnya. Dengan demikian si penerima nasehat bisa dengan senang hati merubahnya.

Terkadang dalam masyarakat kita jarang sekali memberikan penghargaan dan simpati kepada saudaranya. Jika saudaranya mendapat prestasi atau memliki kelebihan, maka didiamkan seribu bahasa. bahkan iri hati da membenci. Ini adalah sifat hasud. namun ketika terdapat kejelekan, maka segera diungkapkan. bahkan bagi pendengki, ia sengaja mencari-cari kesalahan orag lain atau tajassus. padahal tajassus dilarang oleh Allah” walaa tajassasuuu”.

Dalam peristiwa pemasangan kembali hajar aswad, rasulullah mengajak para pemimpin bani untuk sama-sama mengangkat hajar aswad. Sikap beliau ini merupakan penghargaan kepada mereka. akhirnya mereka senang karena merasa dilibatkan.

Ketika terjadi peristiwa fathu makkah, abu sofya sang pemimpin quraish telah kalah dan tidak berdaya. alam kondisi seperti ini, maka rasul tidak menghina abu sofyan. justru menghargainya. dengan menyatakan”barangsiapa yang masuk ke dalam rumah abu soyan, maka ia aman.

Dalam setiap pertempuran, bendera ansar dan muhajirin selalu disertakan. Ja’far bin Abu Thalib yang memegang panji kaum muhajirin, sementara Sa’d bin Rabi’ memegang panji kaum Anshar.

Rasulullah pernah melakukan seperti ini ketika para wanita muslimah ketakutan dengan kedatangan umar. para wanita itu mengangap umar sangat tegas. maka rasulullah memuji umar: wahai Umar, jika engkau lewat, maka syetan akan menyingkir dari hadapanmu.

Banyak prestasi dan kelebihan saudara kita yang terkadang kita menutup mata. oleh karena itu sampaikan penghargaan itu secara tulus dan ikut mendukung. karena muslim dengan sesama muslim bagaikan satu tubuh. ketika saudaranya memiliki kelebihan, maka ia juga harus merasa bergembira dan menyatakan apresiasinya.

Kalimat yang bisa kita sampaikan, misalnya ”Tindakan kamu sudah sangat bagus. namun alangkah lebih bagus lagi jika begini”. Dengan bahasa seperti itu, maka si penerima nasehat tidak akan terluka hatinya, bahkan menerima dengan lapang dada dan berterimakasih atas nasehat saudaranya. (*)

Related posts

“MEMBANGUN ETALASE, MODERASI BERAGAMA DI NUSANTARA”

Zulfa

“RENUNGAN JUM’AT – AKU CINTA NKRI SEPENUH HATI ” Oleh : Dr.Hb.IDRUS AL-HAMID SUARA MINOR POROS INTIM.

hersen

“ORANG-ORANG MUNAFIK AKAN MEPERCEPAT MURKA ALLAH”

hersen