Honai Smart News

“HOMOGENISASI AGAMA MELAHIRKAN RADIKALISME SIMBOLIS “

 

Oleh. Dr.Habib.IDRUS AL-HAMID

Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA.

Suara Cendekiya Poros INTIM.

 

Belakangan ini, bermunculan kelompok elite agama yang selalu berupaya tampil dalam “Kaukus Simbolis” saat tampil di setiap event acara formal maupun in-formal. Simbol agama seperti Jubah, Penutup kepala Ala Timur Tengah, selalu memiliki artikulasi sikap keberagamaan seseorang telah sempurna, layaknya orang-orang suci yang berteduh dalam pelataran Rumah ibadah, petang hingga subuh__.

 

Istilah trans-nasional, yang belakangan ini, selalu menggunakan simbol agama dalam mengekspresikan jatidiri. Mereka menebarkan klaim bahwa, kebenaran Absolute adalah apa yang hanya disampaikan oleh Guru-guru mereka di mimbar dan Majlis ta’lim, yang pada akhir-nya secara terbuka disampaikan melalui media cetak maupun elektronik. Mereka tidak segan untuk mengkafirkan orang yang dipandang berlainan fi’liyah (bc.Praktek Keberagamaan) dengan mereka. Hingga pada puncaknya mereka berusaha dengan cara “Masif, Sistematis dan terstruktur” untuk merubah dasar pijakan haluan Negara yang berdaulat. Sesungguhnya, upaya mereka tidak memiliki dasar pijakan yang kokoh karena harus dipahami, bahwa sumber hukum adalah At-tasyriul wadhi dan At-tasyriu Samawiy (bc. Hukum bernegara dan Hukum beragama). Mereka inilah yang disebut Oleh Rasulollah sebagai ” Kaum Kerdil Akal Budi-nya”. Karena mereka, menjadikan agama sebagai trigger penggiringan opini terhadap ” Kebenaran Absolusitas “. Menurut mereka yang lain itu sesat, sehingga pada akibatnya Agama dipandang mereproduksi Radikalisme, inilah yang sering di sebut Neo Khawarij__.

 

Homogenisasi agama, sebagai bahagian dari cara “Klaim dan pembatasan nilai” yang dipandang hanya boleh tumbuh dan berkembang, dapat mereduksi nilai-nilai agama sebagai rahmatan lil’alamiin atau { Outstanding Universal Value }. Sumber kebenaran yang luar biasa ini, setidaknya harus di Kaji, sehingga agama mampu menyuguhkan wajah sejuk dan menawan. Untuk itu Sesungguh-nya Allah, dengan tegas mengatakan :  ” Janganlah suatu Kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh bisa jadi yang mengolok-olok, merekalah yang tersesat “__.

 

Dalam meneropong, reproduksi Keberagamaan yang dapat melahirkan Radikalisme. Negara melalui lembaga Pendidikan Tinggi Keagamaan, sudah saatnya, hadir sebagai garda terdepan dalam penegasan integritas Bangsa dan Negara.  Tidak hanya sebagai Menara Gading, dalam gagasan keilmuan tanpa tindakan solutif untuk melahirkan ” Moderasi Beragama” sebagai sebuah rule model dalam era Kegalauan identitas Keberagamaan. Untuk ini harus dapat dipahami, sebagai upaya merekonstruksi makna keberagamaan sebagai ” Outstanding Universal Value”__.

 

Saudara-saudara KU.  Beragama sesungguhnya, tidak membuat seseorang jadi Radikal. Beragama sesungguhnya tidak membuat seseorang menghalalkan jiwa dan raga orang lain untuk di musnahkan. Karena agama hadir sebagai Absolusitas dalam Paradikma, { Hablum Minallah Wa Hablum Minannas }. Neraka dan syurga adalah Hak Prerogatif Allah SWT. Kita berupaya menghampiri Cinta Kasih Allah Tuhan Semesta Alam yang tidak ada yang boleh mempersekutukan dengan ciptaan-NYA__.

 

Papua, 26/07/2019

By. Si Hitam Manis menggelitik Hati yang mati

Related posts

“ORANG-ORANG MUNAFIK AKAN MEPERCEPAT MURKA ALLAH”

hersen

” PARADIGMA PSHICOLOGI PERATURAN KOMPARADOR “

Zulfa

Mata Tak Disentuh Neraka

hersen