Honai Smart News

“MEMBANGUN ETALASE, MODERASI BERAGAMA DI NUSANTARA”

Oleh. Dr.Hb. IDRUS AL-HAMID
Suara Minor Poros INTIM.

Pada Abad ke VI hingga XII. Disaat kontestasi kerajaan di Nusantara mengalami Turbulensi pasang surut peradaban nilai, mistitisme dalam pelataran budaya dengan wajah Mitologi Pertarungan perebutan Kekuasaan. Disaat yg sama, Nusantara menjadikan Pusat Perniagaan atara bangsa-bangsa Eropa, Asia Timur Jauh dan Kaum Hadromiy. Konstribusi masing-masing peradaban (bc.Eropa adalah Portogis, Asia Timur Jauh adalah Cina dan Hadramiy adalah Al Yamani), telah mempengaruhi pola pikir dan perilaku raja-raja di Nusantara, yang memiliki keinginan memperluas areal kekuasaan khususnya, kerajaan Sriwijaya maupun Majapahit.

Di saat yg sama. Agama Islam masuk ke Nusantara, Budha dan Hindu serta Paganis, merupakan Agama yg dianut oleh Pribumi saat itu, telah bersemayam di Pelataran kerajaan-kerajaan di Nusantara. Kekuatan dibalik kepercayaan Mistitisme, mulai runtuh saat sayembara-sayembara menjadi sebuah cara dalam menyelesaikan sengketa melahirkan pertentangan antar kerajaan. Selain itu, Upacara Ritual yg penyelenggaraannya menghabiskan biaya yg sangat besar membuat setiap kerajaan membutuhkan model ritual yang sangat sederhana.

Para Pewarta Wahyu/Da’i khususnya Islam menghadirkan penyelesaian konflik dengan pola musyawarah tanpa harus pertumpahan dara. Konsep yg memposisikan raja sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan. Dan melahirkan istila “SABDO PANDITO RATU TAN KENO WOLA-WALI”, itu artinya, bahwa kita gak boleh MENCLA-MENCLE, kalau mau di hormati seperti PANDITO RATU, karena orang itu akan dihormati karena perilaku yang tercermin dari kata-kata, karna dari tutur kata kita bisa menilai seseorang baik atau bijak. Perjumpaan Islam dengan budaya lokal melahirkan, Surau, Langgar dll. Lembaga yg merekonstruksi penyelesaian sengketa saat saembara dan upacara Ritual yg sangat melelahkan tidak mampu menghasilkan Solusi, rakyat merasa tentram karena hadirnya para pewarta Wahyu yg moderat dan Humanis.

Islam yg mampu merekonstruksi Peradaban di Nusantara melalui Model Akulturasi Agama dan Budaya, menjadikan Agama Islam di Nusantara terasa sangat Moderat dan santun. Tidak Ekstrimis atau radikalis. Penyelesaian Senketa di rekontruksi dalam bentuk simbol tertentu yg disepakati bersama (bc.Upacara Asyura, Sekaten, Tahlilan, Ratiban, Tibaan atau Barjanzi dll). Islam di Nusantara mampu merekonstruksi Upacara-upacara yg beraroma mistitisme, menjadi upacara yg mampu merubah wajah Kerajaan-kerajaan di Nusantara menjadi Peradaban “KARTA-GAMA” (bc. Interkoneksi Negara dan Agama). Kemaharajaan Raya, dalam Puncak kepemimpinan Hayam Wuruk. (1350-1389). Membuat Majapahit mampu menyatukan sebahagian besar wilayah di Nusantara sehingga disegani oleh Bangsa lainnya.

Etalase moderasi beragama yang sangat moderat, melahirkan Konsep interpretasi Kontekstual dari teks Wahyu ditengah masyarakat, tanpa ada pertentanga yang berarti. Sudut pandang masyarakat terhadap Tokoh Agama sebagai sumber tata nilai Kontekstual tidak mengalami perubahan karena kontestasi Ekonomi, Politik di bingkai oleh budaya Tepiseliro. Masyarakat menyadari perbedaan adalah bahagian dari etalase Sunnatulla yang harus dijaga dan dipelihara, sehingga para pendahulu mampu melahirkan gagasan Bhinneka Tunggal Ika dalam dasar ideologi PANCASILA sebagai filosofi Berbangsa dan Bernegara__.

Saudara Ku. Tulisan sebagaimana tersebut di atas, merupakan refleksi dari kegamangan identitas yang saat ini sedang melanda Negeri Indonesia Raya. Kita harus interpretasi Sejarah masa lalu sebagai akibat dari genologi masa depan yg hiper aktif.

Jayapura, 12/07/2019
By. Si Hitam Manis Pelipur Lara. Selalu merana untuk Indonesia Raya__.

Related posts

” NABI MUHAMMAD IBN ABDILLAH CAHAYA ILAHIYAH DIMUKA BUMI”

hersen

ETIKA MENASEHATI DAN MENEGUR DALAM ISLAM

hersen

GELORA NISFU SYA’BAN, HARUSNYA SHOLAWATAN

hersen