Honai Smart News

ISLAM DAN RADIKALISME, SUDDEN POWER SYNDROME

Oleh. Dr.Hb. IDRUS AL-HAMID

Suara Cendekia Poros INTIM.

Di dalam dunia psikologi ungkapan bahwa kekuasaan atau “power”  itu bersifat “addictive” dan keeratannya  dengan “money” hampir tidak dapat dipisahkan. Ketika seseorang mendapatkan kekuasaan yang belum pernah diraih sebelumnya biasanya cenderung untuk memfokuskan tindakannya untuk menyelaraskan langkah dan tindakannya dengan keinginan atasan-nya agar tidak kehilangan kekuasaan tersebut.

Dahulu promosi untuk menduduki jabatan, tidak ada syarat Radikalisme yg dikaitkan dengan Agama tertentu. Syarat utama adalah Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan berjiwa Pancasilais. Pertanyaan yg selalu menjadi pokok pembahasan hari ini, kenapa umat Islam selalu dikaitkan dengan Radikalisme,.  Apakah kebanyakan Pejabat di negeri ini mengidap penyakit ” Sudden Power Syndrome “. Sehingga setiap langkah yg diambil harus melumpuhkan kekuatan yang dianggap___.???  sebagai ancaman.

Kata radikal berasal dari kata radix yang dalam bahasa Latin artinya akar. Dalam kamus, kata radikal memiliki arti: mendasar (sampai pada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan), maju dalam berpikir dan bertindak (KBBI, ed-4, cet.I, 2008).

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof.Dr. Imran Mawardi MA, mengatakan, istilah radikalisme sengaja dibuat oleh Barat untuk menghancurkan umat Islam. Sebab, pasca keruntuhan Komunisme, satu-satunya ideologi yang menjadi ancaman paling menakutkan bagi dunia Barat adalah Islam. (Hidayatullah.com.). Andaikan pendapat sebagaimana di kemukakan di atas  ada benar-nya, maka apa yg sedang terjadi di Negeri ini. Sehingga untuk menduduki jabatan Pejabat Tinggi harus mendapat Surat Keterangan dari Badan Nasional Penanggulangan Teroris/radikalis. Dan ironis-nya kenapa hanya Ummat Islam yg diperhadapkan dengan syarat sebagaimana tersebut di atas.

Dalam Islam (bc.Al-Qur’an) tidak kita temui, kalimat yg sangat radikal. Kata ” Musuhilah mereka jika engkau di usir dari negeri kelahiran Mu ” atau Perangilah mereka hingga mereka beriman ( Terjemah Maknawiyah) jika dilihat dari Asbabun Nuzul, maka sesungguh-nya kalimat Perangi itu dimaknai Majemuk tidak selalu tunggal. Nilai-nilai Universal dalam Agama harus di Kaji dan di Uji. Tidak harus Setiap orang merasa paling benar dan yg paling berhak menerjemahkan Teks Suci Al Qur’an.

 

Apakah pantas setiap tindakan yang dilakukan oleh Sosok yg mengenakan Jubah agama merefresentasi, keyakinan setiap Manusia. Ataukah Radikalisme sebuah istilah yg digunakan sebagai label dalam Politik Hidden Agenda.

 

Semua kita yg memiliki pengetahuan luas, pasti sangat benci terhadap mereka yg menjadikan Simbol agama berwajah Radikal Ekslusivisme sehingga, menghalalkan jiwa dan raga seseorang atau sekelompok orang lainnya__.

Jayapura, 27/06/2019

By. Si Hitam Manis Pelipur Lara untuk Indonesia Raya__.

Related posts

“ORANG-ORANG MUNAFIK AKAN MEPERCEPAT MURKA ALLAH”

hersen

GELORA NISFU SYA’BAN, HARUSNYA SHOLAWATAN

hersen

” CINTA KEPADA ALLAH SEPENUH JIWA DAN RAGA “

hersen