Honai Smart News

AYAT SUCI DAN AYAT KONSTITUSI, MAKNA DIBALIK PERISTIWA

 

Oleh Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID, S.Ag, M.Si

Rektor IAIN Fattahul Muluk Papua

Suara Minor Poros INTIM

 

Kalimat Hablumminallah wa Hablum minannas adalah makna dari Hubungan vertikal yaitu hubungan ubudiyah kita kepada Allah (Hablumminallah), sedangkan hubungan horizontal adalah hubungan muamalah kita kepada sesama muslim dan makhluk Allah lainnya (Hablumminannas). Dalam Pranata sosial selalu diperbincangkan. Hal ini, sebagai akibat dari restrukturisasi pemikiran kontemporer yang pada kenyataannya Manusia selalu berada dalam bayang-bayang masa lalu, yang mengakibatkan terjadi kesenjangan dalam menjalankan pola hubungan antar sesama-Nya. Yang untuk itu dapat menggangu pola hubungan dengan Tuhan-nya.

 

Menurut kodratnya, manusia dalam hidupnya, selalu mengakui adanya kekuatan yang maha dahsyat di luar dirinya. Manusia selalu merasa bahwa di luar dirinya terdapat kekuatan yang tidak mungkin ditandingi oleh kekuatan manusia dan alam sekitarnya. Pengakuan seperti ini, biasa disebut dengan beragama. Kepercayaan Paganisme, dan atau Monoteisme sama-sama memiliki pandangan dan kepercayaan bahwa lahirnya spiritual religis, sebagai akibat dari kepatuhan terhadap Teks Ayat suci yang di yakini sebagai *Absolusitas* dalam mendekatkan diri dengan kekuatan yang maha dahsyat di jagat raya ini. Hadirnya Ayat Suci meneguhkan sikap dalam implementasi beragama setiap Manusia yang untuk itu selalu dijaga dan dipelihara sebagai At-tasyri’ samawi.

Hadirnya ayat-ayat konstitusi { at-tasyri wadh’i } dapat dimaknai bahwa, pada mulanya, manusia hidup sendiri-sendiri, yang selanjutnya karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut, manusia memerlukan teman untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu mereka bergabung dengan manusia-manusia yang lain. Perkembangan selanjutnya, karena jumlah mereka semakin banyak, maka diperlukan pemimpin dan aturan-aturan yang disepakati. Kemudian juga diperlukan fasilitas-fasilitas untuk memudahkan jalannya kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mereka membuat aturan-aturan untuk mereka sepakati bersama dalam kehidupan. Mereka juga membagi tugas setiap orang atau setiap kelompok agar semua urusan dapat ditangani tanpa ada penumpukan tugas pada seseorang saja.

 

Lahirnya *Ayat Suci* dapat di hubungkan dengan *Sabab musabab* yang selalu beradaptasi dengan makna di balik setiap peristiwa. Sikap beragama dalam *Masyarakat Majemuk* akan terlihat *”Rahmatan Lil ‘alamiin* jika Agama hadir sebagai Solusi damai sehingga kalimat “Baldatun Thoibah wa Rabbun Ghafur” dapat dirasakan menusuk hingga rongga dada khususnya Para Ulama, Kiyai dan Habaib__.

Lahirnya Ayat Konstitusi dalam mengatur siklus hubungan Manusia dangan Manusia, serta menjambatani hukum kausalitas saat adanya hubungan manusia dengan Tuhan {Allah SWT}, menegaskan maksud, sesungguh-nya Seorang negarawan adalah mereka yang paham dan mengerti tentang ayat-ayat Konstitusi yang wajib di junjung tinggi oleh setiap warga negara dimana pun mereka berada.

Kepatuhan terhadap ayat konstitusi merupakan sikap dalam berbangsa dan bernegara. Sementara kepatuhan terhadap Ayat Suci adalah bahagian dari manifestasi ketaatan oleh setiap insan yang beragama tanpa memaksa semua insan harus sama, karena Hidayah hanya datang dari Allah, kita hanya pelaku usaha. Untuk itu, tidak susah bagi Allah kalau menciptakan semua harus sama.

 

Tulisan sebagaimana tersebut di atas. Mungkin dapat menjadi rangsangan setiap insan agar tidak mengalami *kebekuan intelektual* dalam mengasah, menggali setiap literasi tentang, bagaimana bersikap sebagai warga negara yang Cinta Indonesia Raya__.

Jayapura. (15/02/2020)

By. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara, mengajak untuk besarkan Otak bukan besarkan otot.

Related posts

MYANMAR MASIH MEMPERTAHANKAN IDENTITAS, TRADISI DAN BUDAYA

Zulfa

” ANALISIS FENOMENOLOGI BENCANA DAN NASIONALISME “

hersen

” NASEHAT, MUNGKIN TAK BERMAKNA “

hersen