Honai Smart News

“CINTA RELASI AWAL DALAM KUBANGAN DERITA”

Syair Pujangga Poros INTIM

Dr. Habib. IDRUS AL-HAMID

Tulisan ini, adalah Renungan Seorang Akademisi Timur Nusantara, di Saat Cinta Sesama kita selalu terpenjara oleh Sekat Wilayah di Nusantara harus kita benahi bersama.

Setiap insan selalu menggunakan kalimat, “AKU JATUH CINTA”. Kalimat jatuh tidak tepat apabila disangkutkan dengan *Cinta* karena jatuh itu pasti akhirnya ada yang tersakiti. *CINTA,* adalah peristiwa yang diawali dengan bayang-bayang masa lalu, yang mungkin dianggap Usang karena ada yang terbaru. Kalau *CINTA* meregang jiwa dan pasti yang pahit selalu dianggap Honey/Madu, atau Gendoruwo dianggap Sang Putri kayangan.

  1. *Cinta Reseptif* : ibarat kata engkau di Cintai karena karena mampu berikan aneka warna yang berbeda. Namun untuk ini ada kelemahan-nya, saat seseorang udah Tua atau ada Penyakit Sombong karena mulai memilah resep yang lain.
  2. *Cinta Eksploitasi* : selalu memanfaatkan orang yang di cintai, Contoh. Selalu memuji yang di Cintai karena Jabatan, karena Hartawan dan atau bodinya, parasnya dll. Cinta Eksploitasi sesungguhnya menyakiti karena memposisikan lawan sebagai obyek derita.
  3. *Cinta Sang Penimbun* adalah Cinta yang dasarnya diletakkan pada harapan, Pujian dan  Cemburu tak bertepi. Cinta seperti ini sangat berbahaya karena selalu menimbun harapan, yang pada akhirnya susah “Move One”, saat harapan bertolak belakang dengan kenyataan.
  4. *Cinta Orientasi Pasar* : Kebanyakan seseorang selalu memperbaiki Penampilan agar terlihat menarik, sehingga yang disenangi pasangan itulah yang dilakukan. Cinta seperti ini akan berbahaya karena pasar selalu kompetitif yang terkadang suasana tidak menentu.
  5. *Cinta Sufistik* : Kaum Sufistik selalu memberikan sesuatu, yang dianggap terbaik yang dimiliki kepada yang di Cintai, dengan hanya berharap agar yang di cintai selalu hadir menenangkan Jiwa dalam Alam fana, saat jiwa bergelombang dalam lamunan pasang, surut Peradaban__. Cinta Kaum Sufistik, berada dalam pelataran keikhlasan dibalut oleh rasa yang memenjarakan Jiwa.

Jakarta, 01/02/2020

By. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara_ Hempasan jiwa untuk semuanya

Related posts

TOKOH AGAMA SEBAGAI SACRET CANOPY DALAM BUDAYA PEMADAM KEBAKARAN

Zulfa

” KONFLIK PAPUA, ANTARA HARAPAN DAN TANTANGAN “

hersen

MASYARAKAT INDONESIA MINIATUR MASYARAKAT MADINAH DI ZAMAN RASULULLAH

hersen