Honai Smart News

” PRAHARA 2020, POLITIK IDENTITAS vs POLITIK KOMUNITAS “

oleh Dr Habib Idrus Alhamid, Rektor IAIN Fattahul Muluk Papua.

 

Disaat semua insan merasa, hilangnya keakraban warga negara , karena setiap orang bertanding interpretasi, ayat konstitusi beragama dan atau bernegara, saat yang sama persekusi terhadap dagelang politik beraroma identitas dan komunitas  menjadi prahara di 2020. Ciri yang paling menonjol saat ini dapat di rasakan,  saat terjadi kesenjangan antara kaya dan miskin, daerah metropolis dan desa-desa komunal, serta kelangsungan hidup ber-bangsa dan ber-negara berhadapan dengan,  ketergantungan terhadap kapitalis “naga merah”, maka yang pasti terjadi distorsi identitas bumiputera indonesia raya, yang berpotensi menjadi “prahara”__.

 

Manusia sesungguhnya memiliki kecenderungan untuk beradaptasi dengan setiap Ekosistem  yang berkembang di sekelilingnya. Namun disaat budaya topo seliro (bc.tenggang rasa sesama) yang lahir dari sistem Peradaban Masa lalu, telah terkikis oleh Peradaban 4.0/ Industri Teknologi informasi dan Komunikasi , maka publik akan disuguhi Narasi Simbolis yang mengusung jargon dalam tema agama, agar melegitimasi basis kejahatan seakan-akan terletak pada politik identitas,  maka Prahara tidak dapat di hindari.

 

Dalam pada itu. Politik Komunitas, mengisyaratkan adanya konspirasi antara kekuasaan dengan kapitalisme tidak dapat di hindari, mungkin karena satu dengan lainnya saling berkonstribusi terhadap kausalitas sabab, musabab dalam perburuan pundi-pundi ” DINAR “. Yang berakibat melupakan hak-hak Konstitusi Bumiputera terhadap negara yang ditegaskan dalam UUD 1945, dalam makna seperti halnya :

 

  1. Berketuhanan dalam Kemajemukan mampu melahirkan Kurikulum Keberagamaan yang moderat, tidak Ekstrimis sehingga menjadi Indonesia Raya dikenal Ramah dan Religius dalam panorama bernegara.
  2. Manusia yang mulia jika mampu menegakkan keadilan dalam menegaskan identitas Warga negara pemilik kedaulatan negara.
  3. Nusantara adalah gugusan kepulauan yang terbentang sangat luas. Merupakan Kesatuan yang tidak dapat di pisahkan. Ketahanan Rakyat Semesta harus dijaga. Persatuan adalah kekuatan yang mampu mereduksi Politik Identitas dan Komunitas dalam dialog hidden simbolis.

 

Diskursus Publik tentang Ideologi Ber-bangsa dan Ber-negara pada tahun 1948 s/d 1950, telah melegitimasi Pancasila sebagai, Filosofi, Idiologi dan Asas Ber-bangsa dan Ber-negara, tidak perlu dipertentangkan dengan Agama. Karena nilai yang terkandung dalam PANCASILA bahagian dari Ijitihad Tokoh pendiri bangsa Indonesia Raya, yang menyadari kemajemukan identitas maupun Komunitas Bumiputera di Nusantara Zamrud khatulistiwa harus terjaga sepanjang hayat di kandung badan__.

 

Kalaulah ada Bumiputera, yang menegaskan Pancasila bukan ideologi atau Asas berbangsa dan bernegara  maka harus dijelaskan bahwa dalam berbangsa dan bernegara terdapat nilai-nilai Universalitas yang ditetapkan sebagai dasar kehidupan dalam kemajemukan ber-bangsa dan ber-negara. Sebagai Contoh. “PIAGAM MADINAH”. Mampu mempersatukan masyarakat dalam kemajemukan kala itu__.

 

Bung. Agama bagi kita adalah Jati diri dan Budaya bagi Kita adalah Harga Diri. Kalau kita beragama dengan baik maka tentu, kita akan mencintai Tanah tumpa dara kita sepenuh jiwa dan raga. Jangan merajut permusuhan sesama anak Bangsa Indonesia Raya, karena engkau akan hina suatu saat dimana Engkau kehilangan segalanya__.

 

Ingat Saudara KU__ Jika Allah berkehendak menjadikan kita satu ummat, apa yang susah bagi-NYA brooo__.

 

Jayapura, 11/12/2019

 

By Si Hitam Manis Pelipur Lara, Setulus Hati  ingin bicara

Related posts

“PROVOKATOR DAN MOTIVATOR DEMAGOG “

hersen

” NASEHAT, MUNGKIN TAK BERMAKNA “

hersen

” FEODALISME, SHICOLOGI PERADABAN MANUSIA MODERN “

Zulfa