Honai Smart News

“KOPERASI CACING TANAH, KORPORASI NAGA MERAH “

 

Oleh. Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID.

Suara Minor Cendekiawan Poros INTIM__.

Perkembangan koperasi sebagai gerakan ekonomi  kerakyatan, mulai muncul tahun 1908. Gerakan yang dimotori oleh Boedi Oetomo itu ditandai dengan pembangunan koperasi rumah tangga. Pada tahun 1913, Syarikat Dagang Islam memulai kehidupan berkoperasi pada pedagang dan pengusaha tekstil bumiputra.

 

Setelah Indonesia merdeka, gerakan koperasi terpencar-pencar yg akhirnya berhasil dipersatukan. Pada pertemuan genting, masyarakat tetap menggelar Kongres Gerakan Koperasi Nasional Pertama di Tasikmalaya, pada tanggal 12 Juli 1947, yang dihadiri oleh 500 delegasi dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

 

Pada 17 Juli 1953, Mohammad Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia saat Kongres Koperasi Indonesia di Bandung, Jawa Barat. Hatta aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi dan menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Ia juga aktif mendorong gerakan koperasi untuk mewujudkan cita-cita dalam konsepsi ekonomi Pro-rakyat.

 

Sekiranya kita renungi dalam pasal 33 UUD 1945 menyatakan sebagai berikut : ayat (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan, ayat (2); Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara, ayat (3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, ayat (4), Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

 

Sehingga Saat Orde Baru, Koperasi tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kelembagaan Mandiri yg dikelola oleh masyarakat yg kita ketahui dengan istilah “Koperasi Unit Desa Mandiri ” {KUD}• KUD menjadi lokomotif Ekonomi kerakyatan, yakni dari Rakyat untuk Rakyat dan oleh Rakyat. Negara hadir memberikan kesempatan kepada Bumiputera untuk mengukuhkan nilai dari ayat 4 Pasal. 33 UUD 1945 bahwa. ” Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Keseluruhan masyarakat Komunal sangat merasakan dampak KUD Mandiri. Apakah saat ini masih dirasakan hal yang sama..???.

 

Lahirnya lembaga-lembaga Korporasi dengan dalih, membangun sistem Ekonomi terintegrasi, dari hulu hingga hilir dan melakukan eksploitasi Sumber Daya Alam tanpa merawat dan memelihara kelangsungan Ekosistem, akan berdampak pada dinamika Sosial kemasyarakatan. korporasi yg memiliki kekuatan Modal dan akses terhadap sumber kebijakan Nasional akan mereduksi {bc.Pelemahan} terhadap lembaga Koperasi Unit Desa Mandiri,  menjadi Cacing Tanah yg hidup dalam balutan  Kapitalisme Rentenir Naga Merah. Kalau demikian adanya, makan tidak kita sadari bahwa  UUD 1945 pasal. 33 tidak di implementasi sebagaimana filosofi Nilai yg terkandung di dalam-nya.

 

Belajar dari masa lalu, kita harus mulai melakukan “Rekonstruksi” Sistem Ekonomi berbasis Kerakyatan. Setiap Bumiputera melalui Koperasi Unit Desa Mandiri {KUD}, juga diberikan kesempatan untuk mengakses sumber Permodalan dan kebijakan, yang membuat Koperasi Unit Desa Mandiri, mampu meningkatkan harkat dan martabat Bumiputera sebagaimana isyarat UUD 1945. Berdikari bukanlah membiarkan mereka merasa teraniaya oleh Korporasi Rentenir Naga Mera. Jangan biarkan Koperasi Unit Desa, layaknya Cacing Tanah yg di injak di atas Bumi Pertiwi, karena saat ini kita hebat berawal dari kehebatan mereka yg berada di sekeliling kita__.

 

Jum’at, 04/10/2019

By. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara, Menggelitik setiap Jiwa dan Raga

Related posts

“GERAI PERADABAN DAN TANDA-TANDA KIAMAT”

hersen

” RENUNGAN PUNYA NURANI “

Zulfa

” SETIAP ORANG ADA MASANYA DAN SETIAP MASA ADA ORANGNYA “

Zulfa