Honai Smart News

” EKSODUS WAMENA, BARA API TAK KUNJUNG PADAM “

Oleh. Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID, S.Ag. M.Si

Suara Minor Cendekiawan Poros INTIM__.

 

Berbagai berita, tentang kerusuhan di Papua, belakangan ini sentak berubah dengan adanya kejadian kerusuhan di Wamena.  Kab. Jayawijaya ibu kota Wamena, yg di huni oleh masyarakat majemuk dari berbagai komunitas suku, rasa,  agama dan adat-istiadat. Kehidupan masyarakat sangat damai sebelum terjadinya konflik.

 

Dari penelusuran, kami, diperoleh testimoni dari berbagi kelompok masyarakat yg eksodus dari Wamena ke Jayapura diperoleh informasi bahwa awal dari kerusuhan ditandai dengan beredar-nya berita di kalangan penduduk Asli Wamena bahwa ada seorang Guru yg menyatakan kalimat Rasis sebagaimana yg terjadi di Surabaya.  Namun sesungguhnya berita tersebut sudah memdapat klarifikasi di Polres Wamena. Hal ini sengaja di hembuskan  untuk memancing keterlibatan masyarakat OAP (bc.Orang Asli Papua),  agar terlibat dalam aksi yg berunjung pada konflik kemanusiaan.

 

Aksi yg semulanya dilakukan oleh kelompok masyarakat yg berencana mendatangi Kantor Bupati Wamena berujung pada penggiringan Siswa Sekolah agar ikut dalam Aksi tersebut. Tanpa disadari, mendapat penolakan dari pihak sekolah, yg pada akhirnya masa memaksa masuk ke sekolah menggiring siswa dan  membakar sekolah agar siswa-siswi tidak memiliki pilihan untuk tidak ikut dalam rombongan yg melakukan aksi pengrusakan dan pembakaran.

 

Kerusuhan, yg semula melegitimasi identitas, berubah menjadi pembakaran Pemukiman dan pusat bisnis Mikro masyarakat. Seluruh kota Wamena menjadi  kota yg diliputi oleh kobaran api dimana-mana. Masyarakat yg kena dampak mulai panik menyelamatkan diri dari amukan massa yg sangat emosional dan tak terkendali. Suasana jadi mencekam, seluruh Masyarakat Pendatang tanpa melihat Suku dan Agama menjadi sasaran amukan kelompok perusuh. Aparat berusaha mengamankan berbagai masyarakat yg terkena dampak kerusuhan, namun untuk itu pembakaran terjadi di mana-mana tanpa bisa diatasi.

 

Dari cerita Ibu Leni Marito Tambunan, Pa. Bisono Ojek Asal Madura dan Pa.Rasyid Asal Probolinggo, bahwa kerusuhan yg terjadi diluar dugaan, karena hubungan antar masyarakat di Wamena sangat bersahaja. Pagi jam 8:00 kejadian mulai terjadi dengan penggalangan massa dan pelemparan ke Kendaraan dan rumah-rumah penduduk serta aparat. Namun dibalik kejadian terdapat cerita kemanusiaan yg sangat menyentuh hati. Terdapat diantara OAP (bc.Orang Asli Papua),  turut memberikan perlindungan kepada masyarakat pendatang, dengan menyembunyikan dan melindungi masyarakat hingga selamat dan di serahkan  kepada aparat. Meraka berusaha agar para perusuh tidak mengetahui, Masyarakat Pendatang yg disembunyikan. Nilai kemanusiaan ini merupakan buah dari hubungan sosial yg sangat baik dalam masyarakat Majemuk selama ini yg ada di daerah Hom-Hom di Wamena. Daerah tempat pemukiman masyarakat Pendatang dari berbagai Suku, Adat, Ras dan Agama.  Ada Pendeta Asli Papua juga memberikan perlindungam kepada masyarakat yg sangat ketakutan saat menghadapi kerusuhan. Peristiwa  yg terjadi sesungguhnya tidak dapat melegitimasi semua kelompok yg ada sebagai Perusuh.

 

Hingga saat ini Eksodus dari Wamena, yg tiba di Jayapura dengan Pesawat Herkules TNI AU. Di letakan di 4 titik pengungsian yakni di LANUD TNI AU, Masjid Al-Aqsho Sentani Kab. Jayapura dan RINDAM XVII Cenderawasih. Yg kesemuanya menampung masyarakat terkena dampak kerusuhan Wamena tanpa melihat Suku Ras dan Agama.

 

Dampak yg ditimbulkan dari Kerusuhan di Wamena Kab. Jayawijaya adalah

 

  1. Yang terbakar : 224 mobil dan 150 motor.

 

  1. Rumah Warga 165 yg terbakar.

 

  1. RUKO 465 Unit yg terbakar.

 

  1. Terdapat 5 Perkantoran utama yg terbakan.

 

Data ini adalah data sementara yg diperoleh dari media cetak dan elektronik. Karena situasi pasca kerusuhan hingga saat ini belum kondusif, yg berakibat pada pendataan yg dilakukan secara menyeluruh belum bisa dilakukan.

 

Rekonstruksi Pasca Kerusuhan di Wamena dapat dilakukan dengan terlebih dahulu, ada upaya  dari kesadaran masyarakat bahwa ” Konflik sangat merugikan berbagai pihak. Karena lumpuh-nya pusat-pusat ekonomi Mikro, membuat masyarakat sulit memperoleh kebutuhan pokok sehari-hari dan berakibat pada mahal-nya harga barang, Sandang, Pangan dan Papan yg akan berakibat pada kesulitan memperolehnya di pasar__.

 

Apresiasi berbagai bantuan dari masyarakat dan Lembaga sosial  yg diberikan kepada masyarakat terkena dampak dilakukan oleh TNI dan Kepolisian sehingga penyaluran dapat sampai pada Masyarakat Pengungsi baik yg ada di Wamena Kab. Jayawijaya, maupun di Sentani Kab.Jayapura.

 

Konflik yg terjadi di Wamena bukan merupakan konflik SARA. Namun akumulasi dari berbagai peristiwa yg terjadi belakangan ini. Maksudnya bahwa,  kemampuan setiap kita mengelola keragaman yg ada dalam masyarakat Majemuk harus dilakukan melalui Riset kebijakan yg mendalam yg dapat melahirkan kebijakan Pola asimilasi terhadap penguatan Pranata Sosial dalam masyarakat Majemuk khususnya di Timur Nusantara dapat dilakukan. Hal ini dapat di pahami karena Timur Nusantara adalah daerah dengan iklim tropis yg sangat menantang, sehingga Masyarakat sangat sensitive terhadap simbol-simbol budaya, Politik dan Ekonomi kausalitas Kapital Humanis apabila dipertentangkan sebagai asumsi pelemahan identitas pada Masyarakat Majemuk __.

 

Tulisan, sebagaimana tersebut di atas. Merupakan harapan seorang Akademisi.

Agar setiap kita sadar bahwa menyelesaikan  Persoalan bukan dalam Wacana Popularitas semata. Namun untuk itu kita harus sadar bahwa Masyarakat ingin bersama tanpa ada sekat-sekat Pranata Sosial sebagai akibat dari Hidden Wacana yg dihembuskan tanpa memahami substansi yg sebenarnya__.

 

Jayapura, 30/9/2019

By. Si Hitam Manis Pelipur Lara Di Timut Indonesia__.

Related posts

” KAUM PRIMITIF MODERN DAN FENOMENA GLOBAL “

hersen

” SETIAP ORANG ADA MASANYA DAN SETIAP MASA ADA ORANGNYA “

Zulfa

“HOMOGENISASI AGAMA MELAHIRKAN RADIKALISME SIMBOLIS “

hersen