Honai Smart News

DIAM-NYA AKADEMISI

Oleh. Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID, S.Ag.M.Si
Suara Cendekiawan Poros INTIM__.

Saat publik Nusantara, tersandera oleh berbagai Wacanakan, dari soal Radikalisme, Separatisme, Revisi UU KPK, dan Bahaya Asap di Kalimantan. Di saat yg sama setiap individu yg sadar sebagai Warga Negara yang baik, berusaha menjaga NKRI agar tetap solid dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Komitmen terhadap Kesatuan Bangsa Indonesia Raya, sangat terasa dalam kegiatan 17 Agustus yg baru saja kita lewati dan perayaan lainnya.

Perayaan Hari besar Kenegaraan apapun namanya, bukan hanya Ritual semata, tanpa Spiritualitas untuk menggali makna dibalik peristiwa yg di rayakan. Ritual adalah sebuah proses yg memiliki makna Simbolis, yg selalu berubah sesuai kultur masyarakat Majemuk di Indonesia dewasa ini. Hal ini bisa dibuktikan saat ini, Perayaan Hari Besar Kenegaraan, yg harus direnungi makna filosofi telah berubah menjadi kegiatan Ritual berbentuk Saimbara-saimbara dan Lomba Lari dll, yg kalau di renungi tidak memiliki korelasi dengan Peristiwa yg dirayakan__.

Apakah ini gejala yg sedang terjadi sehingga melahirkan dis-orintasi Nasionalisme kebangsaan Indonesia Raya. Ataukah, nilai-nilai budaya luhur bangsa dan Negara Indonesia, sebagaimana di gaungkan oleh Tokoh Pendiri bangsa bahwa. ” Bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai jasa para pahlawan “. Telah Musnah ditelan oleh derunya Perkembangan Zaman Hypper Globalis. Yg memposisikan waktu adalah Money, sehingga buat apa melahirkan Spiritual dalam merajut nilai Kebangsaan Indonesia Raya dalam perayaan Hari besar Kenegaraan.

Kalau direnungi tulisan sebagaimana tersebut di atas. Seharusnya para Akademisi jangan diam seribu bahasa. Gagasan-gagasan dalam program Kesatuan Bangsa dan Negara Indonesia Raya harus di kemas, sehingga mampu m lahirkan Calon Pemimpin Bangsa dan Negara Indonesia Raya, yg miliki sikap, Spiritual dalam memahami arah baru penguatan simbol-simbol berbangsa dan bernegara dalam bingkai ” Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI DAN UUD 1945, wajib di utamakan.

Para akademisi jangan diam. Karena tantangan bangsa dan negara Indonesia Raya, silih berganti menghampiri tata ruang kosmos jagad raya Nusantara zamrud khatulistiwa. Setiap Akademisi memiliki kewajiban mencerdaskan kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia Raya itu adalah Amar UUD 1945. Jangan pernah menjadi penumpang gelap, saat melahirkan gagasan yg dianggap tidak orisinil membela kepentingan Bangsa dan Negara. Para Akademisi jangan pernah menari dengan irama gendang Kapitalis Hedonis. Para Akademisi harus mampu dan dapat menegaskan Integritas Nusantara, serta mengawal nilai-nilai filosofi berbangsa dan bernegara di manapun kita berada.

Sudah saatnya. Kaum akademisi menggali sumber Literasi Orisinil Nusantara untuk dijadikan sumber-sumber rujukan penguatan spiritual Integritas budaya leluhur Bangsa Indonesia Raya. Ingat Bung_. Subua Negara akan maju dan di segani jika Masyarakatnya Unggul dan Cerdas. Ukuran keunggulan dan kecerdasan dapat diwujudkan nyatakan jika Para Akademisi, berupaya merangkai gagasan agar Bangsa dan Negara Indonesia Raya menjadi bangsa terpelajar. Dahulu kala, para Pejuang sering disebut ” Orang-orang terpelajar bukan terdidik. Karena kalau terdidik pasti ada Hidden agenda dari mereka yg mendidik. Kaum akademisi harus berpikir Global dan Bertindak lokal_.

” Engkau Bisa karena Selalu bersama “ Cintailah Tanah Air MU, karena itu bahagian dari Iman. Hanya Orang yg tidak beriman sajalah yg mau menghancurkan tatanan kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia Raya__.

NKRI, 19, September 2019.
By. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara__.

Related posts

KEKERASAN SIMBOLIK SISTIMATIS

hersen

AKIBAT MA’SIYAT GEMPA DAN TSUNAMI MENARI, FITNAH-PUN BERNYANYI

hersen

Tragedi Lombok Menguji Sejatinya Hati

iqbal