Honai Smart News

TOKOH AGAMA SEBAGAI SACRET CANOPY DALAM BUDAYA PEMADAM KEBAKARAN

Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA

Saudara-saudara KU, Tatkala Agama berada dalam simbol-simbol dinamika sosial, maka ketegangan harusnya mempu di elimenir dalam sangkaan. Baca untuk saling berbagi Pengetahuan.
___________

Agama merupakan realitas sosial yang di konstruksikan mampu memberikan Kenyamanan dalam kehidupan Sosial oleh manusia. Dalam proses konstruksi realitas tersebut, manusia melalui tindakan dan interaksi secara terus-menerus dapat menciptakan realitas yg dirasakan milik bersama secara aktual dan penuh makna secara Subyektif atau objektif (Berger : Dlm Buku The Sacred Canopy ).

Dalam realitas sosial, manusia sesungguh-nya saling membutuhkan satu dengan lainnya, hal ini dikarenakan Manusia sering berada pada seleksi Kosmos Alamiyah, dalam pertarung guna mempertahankan kelangsungan hidup-nya. Dalam realitas tersebut di atas, pasti disadari akan memiliki potensi Konflik yg diakibatkan adanya gesekan kepentingan saat restrukturisasi dalam sekmentasi Sosial.

Agama Sebagai realitas sosial baru, berupaya merekonstruksi dinamika Sosial sebagai bahagian dari ” Sacrat Canopy” dalam bentuk Akulturasi Agama dan Budaya, yg pada kenyataan-nya melahirkan “Rekonstruksi Peradaban” melalui kegiatan-kegiatan bersama seperti halnya, Perayaan ” Halal bil Halal, serta Perayaan lainnya (bc Do’a bersama, Maulidan, Tahlilan, Syukuran dan kegiatan PHBI ).

Tokoh agama, sebagai Sosok yg di yakini dan dipercaya mampu menghilangkan suasana ” Kecemasan dan atau Ketegangan Sosial ” seharusnya, berupaya memberikan solusi, bukan seperti halnya “Pemadam Kebakaran” yg akan bertindak apabila telah terjadi kebakaran. Untuk itu “Tokoh Agama” adalah Sosok yg mampu mendeteksi sebuah gejala ” Kecemasan dan Potensi Kekerasa Sosial” yg terjadi di Masyarakat sebagai akibat dari pertarungan Ekonomi dan politik, sehingga “Aktor” yg berupaya memeta konflik Sosial dapat di redam oleh Tokoh Agama dalam masyarakat majemuk dewasa ini.

Saat ini, di Zaman NOW. Reposisi Sosial membuat sebahagian “Tokoh Agama” ikut serta dalam Pertarungan perebutan sumber-sumber Ekonomi dan Pertarungan dalam Politik Praktis, yg pada akhirnya membuat “Tokoh Agama” kehilangan Wibawah dan kepercayaan dari Masyarakat. Inilah akibat dari Rekonstruksi Ketegangan Sosial setengah hati artinya, tokoh agama Sebagai “Sacret Canopy” tidak hanya berfungsi seperti halnya Pemadam Kebakaran. Namun mampu merajut dan mengembangkan pola interaksi yg dapat merubah hubungan timbal balik dalam dialektika simbolis masyarakat Majemuk atau Pluralis.

Menjadi Tokoh Agama adalah sebuah proses Alamiyah, yg timbul dari pengakuan masyarakat bahwa agama mampu dan dapat merekonstruksi Peradaban “Jahiliyah menjadi Peradaban “MADANIYAH” dalam Konsensus Sosial yg disepakati bersama sebagai elemen “Sacret Canopy” yg memposisikan “Tokoh Agama” sebagai sentral Perubahan Peradaban HUMANIS, yg saling menghargai dan menghormati satu dengan lainnya dalam Bingkai ” Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indoneaia” yg harmonis sebagai Contoh peradaban Modern saat ini__.

( Saudara-Saudara KU, Agama sumber tata nilai ilahi yg bersifat Absolusitas dan memadai sepanjang hayat__.

OLEH.Dr. Habib.IDRUS AL-HAMID
Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua. 14/09/2019)

Related posts

HIDUP TRAGEDI DAN KOMEDI

hersen

” PENDIDIKAN GERBANG BUDAYA BANGSA ANTARA HARAPAN DAN TANTANGAN”

Zulfa

PEOPLE POWER DAN REVITALISASI PERAN TNI ( Dahulu, Sekarang dan Akan Datang)

hersen