Honai Smart News

MYANMAR MASIH MEMPERTAHANKAN IDENTITAS, TRADISI DAN BUDAYA

Oleh: Dr. Suparto Iribaram, MA

Minggu lalu, tanggal 25 Agustus 2019, kami berkesempatan mengunjungi satu universitas tertua di negara Myanmar yaitu Yangon University dalam sebuah acara academik visiting. Myanmar adalah salah satu negara di Asia tenggara yang merupakan bekas jajahan Inggris. 90 % penduduk Myanmar memluk agama Budha.

Saya berkunjung ke salah satu departemen yaitu Departement of Antropology dimana saya lihat suasana kampus yang sangat sederhana. Pada kunjungan ini saya terkejut karena semua yang menjadi staf dan dosen adalah kaum perempuan, sementara yang laki-laki tidak terlihat.

Penulis (kiri) bersama akademisi dari Univ Yangon dan akademisi dari UGM Yogya

 

Berdasarkan informasi, para laki-laki lebih banyak menghabiskan waktunya di kuil kuil sehingga di lingkup kantor dan kampus menjadi dominasi perempuan. Dominasi perempuan ini bepengaruh kepada fashion mereka yang kesehariannya menggunakan sarung dan sendal japit untuk ke kantor. Begitu juga untuk ke acara acara resmi. Selain itu, mereka juga menggunakan bedak dingin yang berasal dari batang pohon.

Saya melihat struktur bangunan mereka tetap mempertahankan bangunan-bangunan tua yang menghiasi hampir sebagian besar kota Yangoon. Masyarakat Myanmar juga mempertahankan pasar-pasar tradisional mereka sehingga sangat jarang terlihat toko moderen seperti supermarket, mall, dan sejenisnya. Swalayan ini sangat jarang terlihat. Dominasi pasar tradisional terlihat di hampir seluruh sudut kota dan pusat kota.

Pemerintah dan masyarakat Myanmar masih mempertahankan budaya mereka, dan mereka tidak mau mengikuti  tren globalisasi. Mereka tetap menjaga keberlangsungan tradisi mereka yang berlangsung turun temurun dan identitas mereka sebagai orang Myanmar.

 

Related posts

” FEODALISME, SHICOLOGI PERADABAN MANUSIA MODERN “

Zulfa

” POLITIK TEBAR PESONA MENGHANCURKAN MASA DEPAN INDONESIA RAYA “

Idrus Alhamid

HILANGNYA KEAKRABAN WARGA NEGARA ” Dosa Siapa”

hersen