Honai Smart News

” BAHAYA PATRON KLINE DALAM NEGARA “

Oleh. Dr.Habib IDRUS AL-HAMID
Cendikiawan Poros INTIM.

Satu ketika, terjadi pergolakan antara kelompok yg mempertahankan kekuasaan dan menginginkan kebebasan. Semula gejolah mengambil isu-isu ” Agama dan Suku ” yang pada akibat-nya setiap kelompok bertindak “Rasis”. Disaat yg sama. Negara, di Pimpin oleh sosok yg tidak paham terhadap ideologi Negara Hukum berkeadilan, karena tersandera oleh “PATRON KLAN” maka di pastikan, masalah tidak terselesaikan, dan akan muncul milisi-milisi sosial baru yg membuat kerusuhan dalam hidden agenda. Akibat isu dan Tema berubah sebagai akibat dari proses pembiaran penyelesaian sengketa yg bersifat ‘Rasis’__.

Sebagai contoh, Afrika Selatan yg jadikan Nelson Mandela sebagai Lambang perjuangan Kaum tertindas. yang pada akhirnya melahirkan rasa, ada perbedaan Suku dan Bangsa diantara Masyarakat, yang pada akibatnya meniadakan kelompok tertentu. Pola interaksi dan interkoneksi lintas budaya sesungguhnya merupakan bahagian dari problem masa kini, yg banyak tidak disadari oleh Pembuat Kebijakan. Interaksi dan interkoneksi setidaknya merupakan bahagian dari Kebijakan Makro pada sebuah Negara yg dipandang sangat Majemuk. Hal ini, setidaknya dapat meminimalisir Konflik yg dikarenakan Sensitivitas terhadap Isu-isu Keberagaman dan Integritas Ke-sukuan setiap kelompok dalam Negara.

Tulisan sebagaimana tersebut di atas, membuat kita kembali menegaskan bahwa “Negara berkewajiban melindungi Segenap Bangsa dan Tumpah dara” yg berada dalam gugusan wilayah di Nusantara. Untuk itu siapapun yang berada dalam sebuah negara yg sangat majemuk seperti Indonesia, harus memahami ada nilai-nilai yang melekat pada simbol negara yg wajib di jaga. Begitupun setiap warga negara tidak pantas mendiskreditkan kelompok tertentu dengan sinis dan penuh dendam serta amarah.

Untuk memahami bahwa Negara Berkewajiban melindungi segenap Bangsa dan tupa dara Indonesia maka, HUKUM harus bertindak sebagai PANGLIMA. Dengan prinsip dasar adalah setiap orang sama dimata Hukum. Negara tidak boleh lengah dan menganggap ada yg harus dibela dan ada yg harus di tindas. Apabila penyelenggara Negara tidak tegas, maka yg Muncul Gerakan Rasis yg pada puncaknya akan dijadikan Contoh pada wilayah-wilayah lain, bahwa melecehkan Simbol Negara adalah sesuatu yg dapat di Maklumi dan yg tidak dapat di Maklumi kalau Kemanusiaan di Hina. Sesungguhnya, Negara yang Kuat dan Bermartabat adalah Negara yg sistem tata administrasi Pemerintahan tanpa ” PATRON KLAN “. Siapapun warga negara apabila mengganggu ketertiban Umum dan Melecehkan Simbol Negara harus di tangkap dan di adili, agar tidak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok, dengan tujuan tertentu__.

Saudara-saudara KU, Nusantara adalah Gugusan Pulau yg terbentang dari Sabang hingga Merauke dan dari Malaka hingga Pulau Rote harus mendapat perlakuan yg sama. Untuk itu Jangan pernah menciptakan “PATRON KLAN” dalam Negara, itu sangat berbahaya karena berakibat pada Disintegrasi Bangsa . Ingat Bung_. Sejarah Penuh makna dalam cerita, banyak bangsa tercerai berai hanya karena Pemerintah kurang Tegas dan selalu Labil dalam keputusan. Saatnya kita tegas dan mengadili setiap mereka yg mengganggu Ketertiban umum dan atau hak hidup di Rampas dalam prahara Intimidasi tak adabelas kasih. Saat-nya kita belajar merajut kembali Model ” Interaksi dan interkoneksi dalam pelataran Lintas Kebudaya di Nusantara”. Negara yg menjadikan Hukum sebagai Panglima akan Kokoh abadi sepanjang Hayat dikandung badan_.

Jayapura, 21/08/2019
By. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara…

Related posts

DIAM-NYA AKADEMISI

Zulfa

“RENUNGAN JUM’AT – AKU CINTA NKRI SEPENUH HATI ” Oleh : Dr.Hb.IDRUS AL-HAMID SUARA MINOR POROS INTIM.

hersen

” MUNGKIN-KAH HOAX ALAT PROPAGANDA.?? “

hersen