Honai Smart News

” FENOMENA KRISIS FIGUR DAN KULTUS TOKOH “

Oleh : Dr.Hb. IDRUS AL-HAMID

Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA.

Suara Minor Poros INTIM

Sewaktu Soekarno dan Soeharto Meninggal, Opini beraneka ragam bermunculan di mana-mana, yang pada akhirnya muncul idiologi Sosialis yakni, Soekarnoisme atau Soehartoisme, dengan Pola dan Metode yang diyakini sebagai solusi dalam kehidupan Ber-Bangsa dan Ber-Negara di Nusantara. Keyakinan akan kharisma dan strata sosial, yang melekat pada Kharisma Tokoh tersebut menjadi Kultus pada Masyarakat Komunal dan Metropolis klasik.

Hal ini juga terasa disaat GUSDUR meninggal. Beliau adalah sosok Orisinil Nusantara, dengan gagasan Seluruh Manusia di hadapan Tuhan adalah sama, karena baik maupun buruk adalah pilihan setiap orang dan Allah yang berhak menetapkan.  Berselang meninggalnya Gusdur,   menyusul KH.Hasyim Muzadi, tokoh yang sangat sosialis dan moderat dalam menguraikan makna Keberagamaan di Indonesia yang tiada taranya__.

Sekilas tulisan tersebut di atas mungkin dapat kita jadikan renungan, bahwa sesungguhnya “INDONESIA RAYA” butuh sosok atau Tokoh Orisinil Nusantara, yang sarat akan gagasan terbaharukan. Tidak pada tempatnya kalau Euforia Kultus ketokohan selalu hadir dalam pelataran budaya maupun Politik simbolik. Berbagai negara di belahan Dunia bubar karena “Paranoid Kultus Ketokohan” yang menghasilkan pertantangan dan konflik berkepanjangan__.

Disaat Euforia, Partai Politik memunculkan wajah Kultus Ketokohan, seperti :

  1. PDI-P (Bu.Mega,).
  2. Demokrat (Bpk.SBY).
  3. Nasdem (Bpk. Surya Paloh).
  4. PKB (Bpk.Muhaimin Iskandar).

Mungkin Partai-partai tersebut di atas akan mengalami Patologi Politik Shock Kultur, sebagai akibat dari perubahan kepemimpinan Partai. Kultus Ketokohan dalam Partai akan berakibat lahirnya konsep Monarki Hereditas Klaim terhadap adanya Putra Mahkota, yang berakibat Partai tersebut tidak akan bertaha dalam kurun waktu yang lama dan akan tinggal nama__.

Sesungguhnya Metode, mengkultuskan sesuatu adalah Polarisasi dari siasat Kapitalis untuk melemahkan sistem ketahanan Nasional. Kaum Kapitalis sengaja membuat kita merenungi masalalu dan mereduksi pemikiran kita tentang masa depan Bangsa Indonesia sebagai Negara dengan Bonus Demografi alias Zamrud Katulistiwa. Kita terlena dengan Polarisasi Kursiologi (bc.Idiologi Kursi/tahta) sehingga seluruh Sumber Daya alam di Nusantara di eksploitasi hingga menusuk Sukma Ibu Pertiwi_. Waspada laaah waspada laaah waspada laaah_.

Jayapura, 08/07/2019

By. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara, Selalu setia kepada NKRI untuk selamanya__

Related posts

KECEMASAN PATOLOGI {“Post power Syndrome”}

hersen

“KOPERASI CACING TANAH, KORPORASI NAGA MERAH “

hersen

” ANALISIS FENOMENOLOGI BENCANA DAN NASIONALISME “

hersen