Honai Smart News

“BAHAYA MEDIA BERWAJAH ANTAGONIS”

Oleh. Dr.Hb. IDRUS AL-HAMID.

Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA.

 

Dahulu kala, Masyarakat di Nusantara terkenal Humanis, Agamis dan memiliki Kebudayaan Santun, teposeliro serta Gotong-gorong. Nusantara adalah zamrud khatulistiwa, memiliki bentangan yang sangat luas. Karakteristik dalam topografi wilayah sangat beragam, yang berpengaruh terhadap dialektika budaya dalam masyarakat. Untuk itu,  kewajiban, menjaga dan memelihara sumber Kapital Sosial dalam masyarakat sebagaimana tersebut di atas, merupakan kewajiban bersama sebagai sebuah Bangsa dan Negara yang beradab dan berdaulat.

 

Media dahulukala menyediakan dan menyajikan acara yang menyejukkan, dan mempersatukan, serta menampilkan Hiburan dalam canda tawa. Ada KAMERA RIA, DUNIA DALAM BERITA, Oo SIAPA DIA. Film, Janur Kuning, Bandung Lautan Api, Are Are Suroboyo. Si Pitung. Benjamin S., Warkop dll. Media sangat dirasakan sebagai wadah dimama setiap orang dalam masyarakat dapat menenangkan jiwa, saat rebah badan waktu petang tiba.

 

Disaat Media Cetak maupun Elektronik, menampilkan Wajah Antagonis, dengan menyajikan acara Perdebatan dan pemberitaan yang dapat mempengaruhi Mainstream Publik, yang sedang labil dan terpecah, karena terbawa suasana Politik praktis dalam kontestasi PILPRES THN. 2019. Maka tidak kita sadari, Media dengan wajah Antagonis telah berkonstribusi dalam pembentukan karakter dan budaya Bangsa Indonesia Raya, yang sangat Protagonis, atau sering Tritagonis dan diposisikan sebagai tokoh Figuran dalam segmentasi Publik disekeliling-nya.

 

Media, dalam Sejarah Manusia dibelahan dunia, sering dijadikan alat propaganda dengan berbagai tujuan yang pada akhirnya, Persatuan dan Kesatuan Bangsa tercerai berai, hanya karena kepentingan Kaum Kapital dan elite politik yang terasa  sementara mampu menciptakan kebencian menusuk Sukma antar sesama.

 

Media, yang belakangan ini, tumbuh menjadi alat Komunikasi dalam penyampaian berita dan berbagai kejadian (bc.MEDSOS), mayoritas menampilkan Wajah Antagonis, mungkin bertujuan Menghasut, menebar kebencian dan atau menebar ideologi Inklusifisme Radikalis, yang akan berakibat pada lahirnya ketegangan dalam masyarakat yang pada akhirnya konflik tidak dapat dihindari.

 

Bahaya media berwajah Antagonis, belakangan ini, sangat terasa, disaat masyarakat merasa bebas berekspresi menyampaikan pikiran dan pendapat dengan dalih kebebasan berserikat, berkumpul menyampaikan pendapat di depan Umum dijamin oleh UU, tanpa memfilter kebenaran substansi harus Obyektif, maka yang hadir adalah kalimat kebencian dan dendam antar sesama. Di saat yang sama tidak kita sadari  bahwa sedang ada upaya adu-domba antara Anak Negeri agar membara dalam api Amarah sehingga luluh lantah Persatuan dan Kesatuan Sesama ANAK Bangsa Indonesia Raya. Kalau sudah demikian maka  Kapitalis Aseng dan Asing sangat mudah menguasai Sumber Daya Alam, yang terbentang di Nusantara yang harus kita jaga manfaatkan bersama.

 

Saudara-saudara KU. Tulisan sebagaimana tersebut di atas, merupakan refleksi dari renuangan Saya, terhadap berbagai akibat yang ditimbulkan dari hadirnya Media berwajah Antagonis. Pernahkan terpikirkan, agar Media menyuguhkan Potensi dan Panorama Alam, atau informasi tentang Prestasi Anak Pribumi dalam Karya Monumental baik itu dibidang Saintek, Budaya dan Konsep Ekonomi Kreatif, Inovatif yang pasti akan memposisikan Anak Negeri, Orisinil Bangsa dan Negara Indonesian Raya sebagai Tuan di Negeri sendiri. Bukankah, berita hadirnya Pekerja Aseng, terasa Antagonis yang dimaknai bahagian dari arogansi yang merasa berkuasa. Bukankah Program debat kusir dengan tema ” POLITIK PRAKTISI” Hanya bohong guna pencitraan belaka. Ataukah setiap kita, merasa Kebenaran, Keadilan dan kedaulatan tidak lagi di indahkan, sehingga ekspresi Antagonis dianggap wajar-wajar saja__.  Subhanallah Masya-Allah kalau demikian adanya itulah bahagian dari malapetaka “Kegalauan Idebtitas” Kaum PRIBUMI Nusantara_.

 

Jayapura, 03/07/2019

By. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Selalu bertanya dan berbicara.

Related posts

” NEGERI PAPARAZI – SEMUA TAK PUNYA HARGA DIRI “

hersen

” PARADOKS KARYA MONUMENTAL AKADEMIK ”

hersen

“RENUNGAN JUM’AT – AKU CINTA NKRI SEPENUH HATI ” Oleh : Dr.Hb.IDRUS AL-HAMID SUARA MINOR POROS INTIM.

hersen