Honai Smart News

“AROMA DAN PANORAMA POLITIK SIMBOLIS DALAM RETORIKA”

Oleh. Dr Hb. IDRUS AL-HAMID

Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA

 

Sang cendekiya intim. Dalam renungan meneropong politik dalam aroma dan panorama, merefleksikan makna apakah politik selalu  :

 

✓ Dimaknai. seseorang dipeluk, dibawa ke titik-titik harapan atau kehancuran___???.

✓ Dimaknai. tidak ada lawan, tidak ada kawan, karena yang ada hanya kepentingan.

✓ Dimaksudkan merangkai identitas, mereposisi kualitas kehidupan sosial___???.

✓ Dimaknai. menebar pesona, mengarungi bahtera menuju tahta bersama kita bisa, mempertahankan kebahagiaan jiwa dan raga, biarpun yang lain terpenjara__???.

 

Apapun makna yang di pahami tentang politik sebagaimana tersebut di atas. kita melihat ada aroma dan panorama politik akomodatif dalam prahara elite. Jangkauan, harapan dan tantangan terhadap makna, “persatuan indonesia” dan  “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”.  adalah harapan rakyat semesta di nusantara harus di kawal dan di wujud nyatakan___.

 

Kultur politik masyarakat di nusantara selalu “paternalistik”. Untuk itu sangat tepat kita wujudkan harapan dan impian mereka, sehingga di tahun 2024. masyarakat akan percaya sesungguhnya kitalah yang terbaik yang mereka percayai dan mereka pilih.

 

Lebih baik kita benahi kapal yang kita tumpangi, dari pada kita ribut mempertanyakan “kami di berikan kursi di kabinet berapayaaa”  (bc.kursiologi – idiologi kursi)

 

Kalau di teropong dari belahan timur nusantara, yang keluar dari suara hati masyarakat saat ini adalah : kami butuh bukti bukan janji, kami butuh karya nyata bukan karya cerita. ingat bung Indonesia Raya, bukan hanya “jabodetabek”. Leluhur pendiri bangsa dan negara Indonesian Raya telah menyatakan bahwa kita berbeda tetapi satu dalam derap langkah menuju cita-cita Indonesia jaya. jangan memaksa semua harus sama itu menentang ketentuan Allah__.

 

Jayapura, 29/06/2019

By. Si Hitam Manis di hati Mu selalu untuk selamanya. Oooo NKRI selalu di dada

Related posts

“GERAI PERADABAN DAN TANDA-TANDA KIAMAT”

hersen

” PARADOKS KARYA MONUMENTAL AKADEMIK ”

hersen

” NEGERI PAPARAZI – SEMUA TAK PUNYA HARGA DIRI “

hersen