Honai Smart News

” NEGERI PAPARAZI – SEMUA TAK PUNYA HARGA DIRI “

Oleh : Dr. Hb.IDRUS AL-HAMID
Rektor IAIN Fattahul Muluk Papua.

___________________________________

Saat ditanya, tahta itu milik siapa. apakah sosok politisi yang mendapat mandat dari partai ataukah mandat rakyat? Pasti bingung potretnya. Setiap orang di negeri ini selalu berada dalam ruang-ruang kontestasi simbolik secara terbuka sehingga tidak mampu memahami apa gejala yang sedang terjadi, ini sebagai akibat banyak diantara mereka berubah profesi jadi paparazi.

Paparazi, selalu memberikan informasi sesuka hati, sehingga setiap insan percaya tanpa tabayyun. Potret dari berbagai gejala yang diketengahkan di ruang publik, bagaikan dua sisi mata elang yang memiliki dampak, menguntungkan dan atau mepertaruhkan harga diri. Elang seperti ini akan membuat setiap orang mati suri (bc.hidup segan mati tak mau ). Setiap insan mati rasa, sehingga rasionalita tidak lagi dijadikan lokomotiv peradaban. semua bernaung dibalik sangkaan, akhirnya potret selalu memberikan makna kontestasi turbulensi terhadap dinamika sosial.

Kalau sepintas direnungi, sebuah negeri yang masyarakat-nya ter-polarisasi oleh budaya paparazi, yang menyuguhkan berita dengan “hidden agenda “. ini akan berdampak multidimensi terhadap kehidupan terkini yang menyuguhkan fakta.

*Anak akan menganggap orang tua lawan, istri menyandra suami dengan lamunan sangkaan, aparatur negara memiliki sifat bunglon dan yang paling mengerikan kalau TNI & Polri saling berhadapan* . Kalau sudah demikian hal-nya, kepercayaan terhadap pimpinan mengalami “reinkarnasi yang melahirkan post power syndrome” akut, yang bisa berbahaya terhadap ketahanan wilayah dari gempuran para penjajah atau kapitalis hipper-globalis.

Setiap “anak pribumi” sibuk *update status.* untuk menerawang dan menikmati berita hoaks, dengan bumbu *instan* yang pada akibat-nya, saat makan akan berdampak terhadap, pencucian otak, pembentukan karakter dan yang palih sadis lagi lahir-nya generasi pendendam sesama “anak negeri”. Perbedaan sudut pandang dianggap masih yang harus di musnakan.

Negeri paparazi, masyarakat-nya selalu mengintai satu dengan lainnya. rasa malu dan hilang-nya harga diri, bagian dari ekspresi mencari popularitas atas kecemasan komunitas dalam realita sosial. saat “lady diana” di ikuti dan di buntuti oleh paparazi, Akhir-nya dia mati. di saat para spionase, ketahuan melakukan tindakan operasi methode paparazi. mereka mati diracuni tanpa harus di otopsi__.

Saudara ku. ingat kita satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yakni ” Indoneaia Raya “. negeri kita bukan panggung sandiwara__.negeri kita bagaikan syair lagu : kolam susu/koes plus_.

“bukan lautan, hanya kolam susu “. kail dan jala cukup menghidupi mu, tiada badai, tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri diri mu. orang bilang tanah kita tanah syurga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

Lalu kenapa, di negeri kita saat ini *kail dan jala* tidak lagi bisa menghidupi mu. kita selalu di terpa topan dan bencana yang terjadi silih berganti. kita tidak lagi menemukan suasana pesisir pantai atau ikan dan udang menghampiri kita. mungkin karena kita pandai makan dan eksploitaai SDA, tetapi tak pandai merawat kelangsungan ekosistem hayati dan parah lagi dikuasai oleh asing dan aseng__ .

Jayapura, 09/05/2019

By. Suara Minor Poros INTIM Si.Hitam Manis CINTA SEPENUH HATI UNTUK NEGERI

Related posts

” MUNGKIN-KAH HOAX ALAT PROPAGANDA.?? “

hersen

” EKSODUS WAMENA, BARA API TAK KUNJUNG PADAM “

hersen

AKULTURASI AGAMA DAN BUDAYA PANORAMA DI NUSANTARA

hersen