Honai Smart News

” KEPANIKAN DAN KEUNIKAN KAUM AKADEMIK KOSMOPOLITAN “

Oleh : Dr.Hb.IDRUS AL-HAMID
Suara Minor Poros INTIM

 

Perkembangan *informasi teknologi* secara global, dapat melahirkan pertarungan yang memberi kesan, apakah kita mampu menjawab keinginan yang melahirkan kepanikan dalam merespons “gladiator hypper-globalis tik”. Artinya kepanikan dalam mengikuti perkembangan *revolusi teknologi 4.0* oleh kaum akademik sangat dirasakan sebagai akibat dari terbatas-nya SDM yang mampu mengartikulasi metode monolog menjadi metode dialog e-learning sistem.

 

Manajemen strategi e-learning dan knowledge manajemen menuju SDM kompetitif, adalah bagian dari kenyataan yang tidak dapat dipungkiri oleh para akademisi. Kepanikan untuk menyiapkan sarana dan para-sarana yang memadai sangat dirasakan sebagai bahagian dari sistem penganggaran terstruktur. membuat lembaga pendidikan panik saat berhadapan dengan perubahan kultur tatakelola informasi dan komunikasi berbasis android atau sering kita kenal sistem operasi berbasis linux.

 

Sadar atau tidak kita sadari, kita sedang berada di persimpangan jalan ” *rekonstruksi peradaban*”. untuk itu seharus-nya, seluruh akademisi jangan panik. setidak-nya pandai berbagi solusi dalam menghadapi *era erupsi mental spritual*__. Di saat erupsi mental spritual menggejala di panggung nusantara. unik-nya kaum akademik diam seribu bahasa. saat setiap orang atas nama individu, masyarakat atau kelompok tampil dengan spirit membela rakyat jelata yang terhimpit oleh *benteng raksasa*, kaum akademik engkau dimana__.

 

Unik-nya zaman ini, kaum akademik, tak mampu merekonstruksi kesadaran ber-bangsa dan ber-negara setiap “anak negeri”. Kalau dahulukala, para akademisi mampu meng-konstruksi mental spiritual “anak negeri” agar cinta tanah air sepenuh hati. Dahulu tokoh-tokoh akademisi tampil sebagai lokomotif mengokohkan integritas ber-bangaa dan ber-negara, namun hari ini kenapa engkau harus bersembunyi.

 

Saat ini, mungkin agak unik, kalau kaum akademik sibuk mendiskusikan syarat calon rektor dan atau akreditasi prodi yang kita buat sendiri. atau mungkin lagi terjadi polarisasi makna pejabat akademik telah berubah menjadi pejabat birokrat (bc.rektor posisi sudah seperti kepala kantor ansih. yang lebih banyak di kampus daripada di publik universal guna mengejewantahkan “tri darma” PT – disampaikan oleh. azunardi:2018).

 

Setiap bait kalimat sebagaiman tersebut di atas, merupakan fenomena menarik untuk kita dikusikan. ketimbang kita harus menghabiskan waktu behas hal yang “formalistik natural”. Dunia saat ini tidak lagi senyum seindah tempo dahulukal, karena dunia saat ini sedang merana ditepian peradaban sangka-kala. hanya mereka yang dikatakan *ulil albaab* mampu menerawang ayat-ayat fenomenal di jagad kosmopolitan dimanapun kita berada.

 

Kepanikan bukan kebiasaan kaum akademik, karena mereka harus mampu melahirkan solusi dalam gagasan. Keunikan bukan kultur lamunan dalam menikmati hasil karya yang terpenjara oleh altar altar kesombongan akademik, yang kokoh tanpa makna universal dalam masyarakat.__.Makassar, Jum’at 10/05/2019
By. Si Hitam Manis. Dalam Lamunan tak ada tara di batas Nusantara__.

Related posts

HILANGNYA KEAKRABAN WARGA NEGARA ” Dosa Siapa”

hersen

“PROVOKATOR DAN MOTIVATOR DEMAGOG “

hersen

HIDUP TRAGEDI DAN KOMEDI

hersen