Honai Smart News
  • Home
  • Akademik
  • LITERASI INFORMASI DAN PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA (Artikel Tuwaji S.Sos, M.Si)

LITERASI INFORMASI DAN PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA (Artikel Tuwaji S.Sos, M.Si)

Karya Tulis Lomba

LITERASI INFORMASI DAN PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA

Disampaikan pada Lomba Pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Provinsi Papua Tahun 2019 Oleh : Tuwaji S.Sos, MSi PUSTAKAWAN PERPUSTAKAAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI –IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA LITERASI INFORMASI DAN PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA

Oleh : Tuwaji, S.Sos, MSi[1]

 Abstraks : Dalam tulisan ini membahas betapa penting kemampuan manusia dalam hal literasi informasi. Hal ini berkaitan erat adanya kekuatan kompetensi informasi yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan manusia, masyarakat dan negara. Bahwa kondisi umum tingkat kesadaran, pengetahuan dan keterampilan (skills) di bidang information literacy, berdasarkan konsep atau teori Personal Capability Maturity Model (P-CMM), membagi kedalam enam level. Sedangkan posisi masyarakat Indonesia bila mengacu pada Data Roy Suryo yaitu pada level 0 dan level 1, menurutnya secara  data 60% tidak mengenal telematika, sedangkan untuk yang sudah memanfaatkan telematika hanya 0,89%. Terkait dengan ini juga dibahas peran pustakawan dalam meningkatkan sumber daya manusia dalam mendukung proses pembangunan.

 Kata Kunci : Literasi Informasi,  Peran Pustakawan,  Sumber Daya Manusia

  1. Pendahuluan

Pada abad 21 ini dikenal dengan abad informasi, oleh sebab itu  merupakan aspek penting agar suatu bangsa keluar menjadi pemenang dalam persaingan global perlu ditingkatkan kemampuan masyarakatnya dalam hal literasi informasi (information literacy).  Jika dapat dilaksanakan maka akan muncul  kekuatan iformation competency)  yaitu  kemampuan untuk mendayagunakan informasi yang diperolehnya untuk meningkatkan kinerja  atau aktivitas sehari-hari, sehigga mempengaruhi  dan mempercepat dinamika masyarakatnya yag pada akhirnya berpengaruh terhadap kemajan negara.

Di negara maju, masyarakatnya sudah memiliki  tingkat information literacy yang cukup tinggi, dan akselerasi pertumbuhan ekonominya tidak lepas dari hasil yang didapat dari terpenuhinya information literacy pada masyarakatnya. Karena agar dapt maju dan berkembang pada saat ini tidak hanya menguasai sumberdaya  4 M saja ( man, materials, money, method) tetapi  juga perlu tambahan K (knowledge). Sedangkan information literacy adalah sarana penting agar terpenuhi penguasaan sumberdaya K (knowledge) tersebut.

Program information literacy tidak dapat dilepaskan dari teknologi telematika. Karena secara umum program tersebut merupakan muara dari e-literacy yang merupakan akumulasi dari : Information Technologi  Literacy, Digital Literacy, Computer Literacy dan information Literacy. Di Indonesia teknologi ini secara umum mempunyai tiga peranan pokok. Pertama, merupakan instrumen dalam mengoptimalkan roses pembangunan yaitu dengan memberikan dukungan teradap manajemen dan pelayanan kepada masyarakat. Kedua, produk dan jasa teknologi telematika merupakan komoditas yang mampu memberikan peningkatan endapatan baik bagi perorangan, dunia usaha dan bahkan negara dalam bentuk devisa hasil ekspor jasa dan produk industri telematika. Ketiga, teknologi telematika bisa menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa, melalui pengembangan sistem informasi yang menghubungkan semua institusi dan area seluruh wilayah nusantara.

Dalam rangka mewujudkan peran tersebut secara optimal tidak cukup hanya dengan penyediaan sistem, infrastruktur, jaringan, sarana dan prasarana, namun diperlukan upaya yang sistematis dan sungguh-sungguh untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) telematika. Sedangkan SDM telematika, dirancang dengan suatu kerangka yang bertitik tolak dari kondisi yang ada dewasa ini, sesuai dengan harapan yang diinginkan berdasarkan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi. Setelah itu disusun upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam menjawab tantangan tersebut.

Pustakawan yang pada umumnya bekerja pada Perpustakaan salah satu lembaga informasi memiliki peran dan tugas dalam rangka pengembangan SDM tersebut. Dalam bentuk pengembangan program information literacy training, sehingga semakin menambah kuantitas dan kualitas manusia Indonesia yang memiliki information competency yaitu orang berkemampuan untuk mendayagunakan informasi yang diperolehnya untuk meningkatkan kinerja aktivitas sehari-hari. Pada akhirnya hal itu menjadi konstribusi pustakawan dalam memicu kemajuan bangsa dan negara.

2. Pengertian Information Literacy

Information Literacy menurut American Library Association menyatakan (terjemahan bahasa Indonesia) bahwa seseorang dikatakan information literate jika orang tersebut mampu mengenali kapan ia membutuhkan informasiyang dibutuhkanya tersebut secara efektif. Secara lebih luas UNESCO mendifinisikan  bahwa seseorang yang beraksara informasi adalah orang yang mengetahui bilamana mereka membutuhkan informasi , kemudian mampu mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, mengorganisasi, dan menggunakan informasi itu secara efektif untuk menjawab dan membantu menyelesaikan masalah personal, pekerjaan, dan masalah sosial yang lebih luas (Haryadi dalam Ummi Rodliyah, 2012 : 50).

Berdasarkan difinisi diatas, keberaksaraan tidaklah cukup ditandai oleh tingkat melek huruf. Jumlah penduduk yang dapat membaca aksara bahasa Indonesia bukan ciri utama dari literacy. Seseorang baru dapat dikatakan literate jika ia mampu secara fasih dan efektif ikut dalam dialog di masyarakatnya, sedemikian rupa sehingga dia dikatakan ikut berpartisipasi dalam kehidupan yang sesungguhnya. Dengan demikian, apa yang kita maksudkan dengan transparansi dan kebebasan memperoleh informasi dalam kerangka demokrasi sebenarnya didasarkan pada tradisi keberaksaraan.

Guna mempermudah pemahaman kita tentang hal tersebut, perlu disimak difinisi dari ACRL (Association of College snd Research Libraries) standart bahwa seseorang yang memiliki kemampuan literasi informasi akan mampu sebagai berikut :

  1. Menentukan sifat dan keluasan informasi yang dibutuhkan.
  2. Mengakses informasi yang diperlukan secara efektif dan efisien.
  3. Menilai secara kritis informasi serta sumbernya.
  4. Memadukan informasi yang dipilihnya kedalam basis pengetahuan beserta sistem nilainya.
  5. Menggunakan informasi secara efektif untuk tujuan spesifik.
  6. Memahami berbagai persoalan ekonomi, hukum, dan sosial masyarakat pengguna informasi, akses serta menggunakanya secara etis dan sah.

Dengan memahami definisi tersebut, jelaslah bahwa esensi dari sebuah literasi informasi (information literacy) adalah kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi, menemukan, mengakses, mengevaluasi dan menggunakanya untuk menyelesaikan masalah sosial. Dengan demikian seseorang yang telah mempunyai ketrampilan tersebut akan dapat :

  1. Menyadari kebutuhan akan informasi.
  2. Menentukan informasi apa yang dibutuhkan
  3. Menelusur atau mengakses informasi yang dibutuhkan secara efisien
  4. Mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya
  5. Memasukan informasi pilihan tersebut kedalam pengetahuan dasar mereka.
  6. Memanfaatkan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan
  7. Mengerti masalah ekonomi, hukum, sosial dan kebudayaan karena memanfaatkan informasi.
  8. Mengakses dan memanfaatkan informasi sesuai etika dan hukum yang berlaku.
  9. Mengklasifikasi, menyimpan, mengolah dan merancang ulang informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan.
  10. Mengetahui bahwa literacy informasi adalah syarat utama untuk belajar sepanjang hayat

Secara umum untuk menggambarkan posisi Information Literacy dan hubungan tingkat literacy yang lain serta kondisi SDM dibidang telematika dapat diketahui dari tingkat kesadaran, pemahaman dan pendayagunaan ICT yang disebut e-literacy. Literacy, dalam kamus Bahasa Inggris diartikan sebagai “the ability to read and write” atau kemampuan untuk membaca dan menulis. Dalam bahasa Indonesia bisa disebut dengan kata “melek” dimana dalam bidang yang terkait dengan telematika, ada beberapa jenis literacy atau kadar melek seseorang, yaitu melek informasi, melek komputer, melek internet, melek teknologi.

E-Literacy merupakan tingkat kesadaran, pemahaman dan pendayagunaan ICT yang meliputi beberapa kemampuan yaitu : Information Technologi Literacy , Digital Literacy, Computer Literacy dan Information Literacy dimana muara dari semuanya adalah pada Information literacy yang pada akhirnya dapat memunculkan kekuatan  information competency.

Program kumputer literasi adalah program yang dikembangkan secara sistematis dan berkesinambungan yang bertujuan memampukan masyarakat dalam menggunakan kumputer untuk akses informasi sesuai kebutuhanya dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program tersebut dikembangkan dengan penyesuaian terhadap karakteristik dan kondisi masyarakat lokal yang menggunakan strategi pendekatan multi dimensi dan interdisiplin.

Sementara pengertian pengembangan sumber daya manusia (SDM) dibidang telematika tidak hanya tertuju pada pengembang dan pengelola informasi dalam berbagai kepentingan baik komersial, tetapi juga kepada masyarakat sebagai pengguna. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa upaya mendorong keahlian dalam pengembangan jaringan, sarana, aplikasi dan informasi kuran g bermakna apabila tidak diakses oleh masyarakat yang kondisi umumnya pada tingkat kesadaran pengetahuan dan keterampilan (skil) dibidang ini masih rendah.

 3. Tingkatan dalam Information Literacy

Dalam rangka mengetahui sejauh mana kondisi umum tingkat kesadaran, pengetahuan dan ketrampilan dibidang information literacy ini maka perlu adanya ukuran tingkatan kemampuan tersebut sehingga dapat dilakukan perbaikan dikemudian hari.Gambaran e-literacy, secara konseptual dapat dikategorikan dalam enam kategori, berdasarkan konsep atau teori Personal Capability Maturity Model (PCMM) , maka kurang lebih level atau tingkatan e-literacy seseorang dapat digambarkan seperti demikian :

  1. Seorang individu sama sekali tidak tahu dan tidak peduli akan pentingnya informasi dan teknologi untuk kehidupan sehari-hari.
  2. Apabila seorang individu pernah memiliki pengalaman satu dua kali dimana informasi merupakan sebuah komponen penting untuk pencapaian keinginan dan pemecahan masalah dan telah melibatkan teknologi informasi maupun komunikasi untuk mencarinya.
  3. Apabila seorang individu telah berkali-kali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu aktivitasnya sehari-hari dan telah memiliki pola keberulangan dalam penggunaanya.
  4. Apabila seseorang individu telah memiliki standart penguasaan dan pemahaman terhadap informasi maupun teknologi yang diperlukanya, dan secara konsisten mempergunakan standar tersebut sebagai acuan penyelenggaraan aktivitasnya sehari-hari.
  5. Apabila seseorang individu telah sanggup meningkatkan secara signifikan atau dapat dinyatakan secara kuantitatif , kinerja aktivitas kehidupanya sehari-hari melalui pemanfaatan informasi dan teknologi.
  6. Apabila seorang individu telah menganggap informasi dan teknologi sebagai bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari, dan secara langsung maupun tidak langsung telah mewarnai perilaku dan budaya hidupnya atau bagian dari information society atau manusia berbudaya informasi.

Sehubungan dengan kemampuan akses informasi , sebagaimana dikutip oleh Kalarensi Naibaho dalam Ummi Rodiyah, 2012 : 54)  membagi tiga tingkatan Literasi informasi  yaitu sebagai berikut :

  1. Novice adalah orang yang tidak memiliki konsep atau pengetahuan dan keahlian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pencarian dan penggunaan infor masi.
  2. Competent atau intermediate adalah orang yang memiliki konsep atau pengetahuan mengenai penelusuran dan penggunaan informasi, tetapi tidak terampil menggunakannya atau sebaliknya.
  3. Expert yaitu orang yang memiliki konsep atau pengetahuan mengenai penelusuran dan penggunaan informasi.

Data mengenai tingkatan atau level mana masyarakat Indonesia berada dewasa ini , belum dilakukan survey yang representatif. Beberapa informasi yang dihasilkan oleh penelitian lingkup kecil menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat  kita berada pada tingkat atau level 0 dan 1. Data Roy Suryo menyebutkan , misalnya 60% tidak mengenal telematika, sesangkan yang sudah memanfaatkan telematika hanya 0,89 %. Dengan demikian kesenjangan digital terjadi kurang lebih 60 : 1.

Menurut Tapscott  (2000), sebagaimana diikuti Eko Indrajit, bahwa siklus evolusi e-literacy didalam masyarakat berbeda-beda, yang jika diamati sungguh-sungguh memperlihatkan adanya ketersamaan pola berdasarkan kelompok generasi. Pada old generation yang oleh Tapscott diistilahkan sebagai  generasi baby boomers biasanya mengawali proses evolusi e-literacy –nya dengan kompetensi Information Literacy yang telah dikuasainya terlebih dahulu. Kategori kedua ialah new generation, ialah mereka yang pada tahun 2002 sudah dikenalkan komputer sejak usia dini. Kategori ketiga ialah today generation, para remaja dan pemuda saat ini, yang secara kategori generasi berada pada dua titik ekstrim tersebut.

Dalam hal ini semakin banyak penduduk yang memiliki tingkat e-literacy yang tinggi,  maka akan semakin kompetitif nilai keunggulan masyarakat. Maka salah satu masalah yang muncul dalam masyarakat adalah terdapatnya digital gap (kesenjangan digital)  antar generasi di masyarakat. Generasi muda (new / next generation) adalah kelompok masyarakat yang akan memiliki tingkat e-literacy yang tingg, namun generasi ini baru akan memberikan konstribusinya tergantung pada masyarakat dikemudian hari. Maka terdapat dua generasi yang akan berpengaruh langsung terhadap masyarakat, yaitu today’s generation dan old generation. Old generation akan secara bertahap memberikan tongkat ekstafetnya kepada today generation. Yang menjadi masalah  di Indonesia adalah tingkat e-literacy pada today generation masih terbilang cukup rendah. Hal ini tentunya akan berdampak pada terbentuknya new/ next generation. Untuk itulah perlu usaha keras agar terjadi akselerasi penguasaan e-literacy pada today generation.

4. Peran Pustakawan Dalam Peningkatan SDM

Leburnya batas-batas (imajiner) institusi pendidikan formal dan informal menyeret perpustakaan dalam pusaran arus yang tak bertujuan. Informasi yang dulu dikontrol oleh kehadiran perpustakaan, kini telah tergantikan oleh mesin pencari data semacam google, yahoo dan sejenisnya. Pada kasus inilah, perpustakaan pun mencair, tak terbatasi oleh bangunan dan rak-rak buku, berderet, namun lebih bermain pada jaringan dan ketersediaan informasi di dunia maya. Perpustakaan menjadi kendaraan bagi manusia untuk melakukan pengembaraan dalam ruang dan waktu.

Melimpahnya informasi dengan adanya internet yang menjadi alternatif untuk mengakses informasi maka dituntut adanya kemampuan untuk memberdayakan sumber-sumber informasi tersebut. Pentingnya information skills ini menuntut adanya program yang dapat membantu masyarakat meningkatkan information competency. Disinilah dituntut adanya peran institusi perpustakaan dan profesi pustakawan dalam menciptakan masyarakat yang memiliki tingkat kesadaran e-literacy yang tinggi.

Untuk keperluan pengembangan sumber daya manusia tersebut di Indonesia dapat kita lihat bahwa berdasar data dari Eko Indrajit (2000), menunjukan pada saat ini terdapat sekitar 200 perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi terkait teknologi informasi untuk jenjang pendidikan sarjana, magister, dan doktoral serta sekitar 300 perguruan tinggi untuk jenjang pendidikan diploma III dan diploma IV yang seluruhnya menghasilkan kurang lebih 25.000 lulusan setiap tahunnya. Banyak pengamat industri menilai bahwa jumlah tersebut sangat jauh dari kebutuhan industri yang sebenarnya, yang dapat mencapai sekitar 500.000 per tahun. Berdasarkan estimasi perencanaan, keberadaan ini baru akan dicapai pada tahun 2025 yaitu pada saat jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia sekitar 6 juta orang per tahun (United Nation : 2002). Dengan asumsi bahwa sekitar 7 % mahasiswa mengambil disiplin ilmu teknologi informasi.

Perlu diperhatikan bahwa keseluruhan program studi informatika tersebut merupakan komunitas pendidikan yang bertujun untuk melahirkan kelompok yang oleh United Nation distilahkan sebagai IT Wokers atau orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan formal  (akademis) terkait dengan bidang teknologi informasi (UNESCO, 1999).

Pendidikan adalah unsur penting dalam pembangunan, Sedemikian pentingnya, UNDP memasukan unsur kualitas pendidikan dalam perhitungan Human Development Report Indexs. Menurut Human Development Report tahun 2005 yang dikeluarkan oleh UNDP Indonesia menempati peringkat ke-111 pada kualitas sumber daya manusia. Nilai Human Development Index Indonesia adalah 0,692 yang merupakan agregat  dari indeks pendidikan (education index) sebesar 0,80, indeks harapan hidup (life expentancy index) sebesar 0,69 dan indeks produk domestik bruto (gross domestic product index) sebesar 0,583. Dengan nilai tersebut, maka Indonesia menempati kategori middle human development index.

Pengembangan sumber daya manusia dibidang telematika tidak hanya tertuju pada pengembang dan pengelola informasi dalam berbagai kepentingan baik komersial maupun non komersial, tetapi juga kepada masyarakat sebagai pengguna. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa upaya mendorong keahlian dalam pengembangan jaringan, sarana, aplikasi dan informasi kurang bermakna apabila tidak diakses oleh masyarakat yang kondisi umumnya pada   tingkat kesadaran, pengetahuan dan keterampilan (skill) dibidang ini masih rendah.

Dalam rangka mengambil peran dan tugas untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan (information skill) masyarakat maka pustakawan yang ada di perpustakaan dituntut untuk proaktif memberikan bimbingan pendampingan dan pelatihan kepada siswa, mahasiswa dan atau masyarakat sehingga tercipta information competency. Berbagai bentuk informasi literasy instruction di perpustakaan dimana pustakawan dapat melibatkan diri, menurut Eisenberg, (2004) diantaranya adalah :

  1. Stand-Alone Courses or Classes
  2. Online tutorial
  3. Workbooks
  4. Course integreted

Banyak kegiatan rutin yang dapat dilakukan pustakawan di perpustakaan dalam rangka meningkatkan Information Skills penggunanya. Orientasi pustakawan di perpustakaan, instruksi bibliografi, tutorial penelusuran informasi, baik berupa klas-klas khusus maupun menjadi salah satu kurikulum yang diberikan pada mahasiswa di perguruan tinggi.

Peranan pustakawan di perpustakaan dimasa mendatang akan sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam pembangunan. Dengan kekayaan sumber ilmu pengetahuan yang dimilikinya ditambah dengan information competency dari penggunanya, perpustakaan bersama pustakawanya  sebenarnya merupakan salah satu faktor pendukung utama bagi pemerintah ketika akan melaksanakan program pembangunan, baik fisik maupun mental karena melalui perpustakaan dan pustakawan, informasi tentang kebijakan pembangunan dapat disebarluaskan pada masyarakat dengan cara lebih efektif dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat, baik lapisan sosial, pendidikan, usia, suku bangsa, maupun lapisan ekonomi. Hal ini dapat terjadi karena di perpustakaan tidak ada perbedaan terhadap pengunjung. Semua pengunjung atau semua orang dilayani sesuai dengan kebutuhanya bukan statusnya.

Dengan demikian dana yang diberikan oleh pemerintah atau lembaga penaung akan membuat perpustakaan dengan citra baru hasil kerjasama, akan berkembang sehingga mampu menyediakan informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat sebagai sumber daya manusia. Hasilnya adalah lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas dan produksi yang akan mendukung tercapainya visi dan misi pemerintah atau lembaga penaung, akhirnya membuat apa yang diprogramkan oleh pemerintah dengan indeks prestasi masyarakat bisa tercapai. Pencapaian visi dan misi ini melalui indeks prestasi masyarakat (IPM) yang ideal merupakan prestasi yang mengankat nama baik bagi pemerintah atau lembaga penaung. Inilah timbal balik atau keuntungan dari pustakawan di perpustakaan yang dapat diberikan kepada pemerintah atau lembaga penaung yang nilainya lebih besar dari uang dan merupakan investasi ilmu pengetahuan yang nilainya tidak terhingga.

5. Penutup

Sebagai penutup dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Sebagai abad informasi, hal yang sangat penting bahwa suatu bangsa agar mendorong masyarakatnya untuk meningkatkan kemampuanya tentang information literacy atau literasi informasi. Karena hanya dengan meningkatkan literasi informasi masyarakat dapat kuat dalam hal information competency yaitu kemampuan untuk mendayagunakan informasi yang diperolehnya untuk meningkatkan kinerja atau aktivitas sehari-hari yang berpengaruh dan mempercepat dinamika masyarakat dan kemajuan negara.
  2. Bahwa kondisi umum tingkat kesadaran, pengetahuan dan keterampilan (skills) di bidang information literacy, berdasarkan konsep atau teori Personal Capability Maturity Model (P-CMM), membagi kedalam enam level. Sedangkan posisi masyarakat Indonesia bila mengacu pada Data Roy Suryo yaitu pada level 0 dan level 1, yang selanjutnya disajikan data 60% tidak mengenal telematika, sedangkan untuk yang sudah memanfaatkan telematika hanya 0,89%.
  3. Dengan kekayaan sumber ilmu pengetahuan yang dimilikinya, perpustakaan dan pustakawan merupakan faktor pendukung utama program pembangunan, baik fisik maupun mental, dengan berperan secara aktif mencerdaskan bangsa yaitu dengan memberi pelatihan yang meningkatkan information skills mereka sehingga berakibat peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam pembangunan. Usaha yang keras dalam rangka peningkatan information literacy itu akan menghasilkan kekuatan information competency yaitu kemampuan untuk mendayagunakan informasi yang diperolehnya untuk meningkatkan kinerja atau aktivitas sehari-hari yang berpengaruh dan mempercepat dinamika masyarakat dan kemajuan negara.

 

Daftar Pustaka

Abdillah, Komputer Literasi Untuk Mempermudah Akses Informasi Bagi Masyarakat Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia, http://72.14.235.104/search?

Achmad, 2007, Literasi Informasi : Keterampilan Penting Di Era Global, http://www.lurik.its.ac.id

Eisenberg, Michael B. 2004. Information Literacy: Essential Skills for the InformationAge 2 rd. London : Library Unlimited.

Hariyadi, Utami. 2005, Strategi Melakukan Keberaksaraan Informasi di Sekolah : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan, Vol.1, no 2, Juni 2005.

Pendit, Putu Laxman. 2006. Kepustakawanan dan Kebebasan Memilih Informasi, www.petra.ac.id

Rusmana, Agus. Pengembangan Perpustakaan Sebagai Pendukung Pembangunan Masyarakat Berkualitas dan Produktif. http://www.ala.org

Rodliyah, Ummi.2012, Literasi Informasi dan Peran Perpustakaan Dalam Meningkatkan Sumber Daya Manusia : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan, Vol 4 No 1 Tahun 2012.

 

[1] Pustakawan IAIN Fattahul Muluk Papua

Related posts

Omah Jurnal Sebagai Instrumen Peningkatan Mutu dan Daya Saing PTKIN

hersen

STAIN Al-Fatah Telah Beralih Status Menjadi IAIN Fattahul Muluk Papua

Idrus Alhamid

Rektor Lantik 37 Pejabat di Lingkungan IAIN Fattahul Muluk Papua

hersen